TRINGO: Tiga Falsafah Kepemimpinan di Era Milenial – BAKTI NUSA

TRINGO: Tiga Falsafah Kepemimpinan di Era Milenial

TRINGO: Tiga Falsafah Kepemimpinan di Era Milenial

oleh Rosyid SH

Senin/01 Juli 2019, segenap Penerima Manfaat Baktinusa Yogyakarta melakukan silaturahim tokoh kepada Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. selaku rektor di Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan sebagai wujud nyata Baktinusa Yogyakarta untuk memperluas jejaring sekaligus menambah khasanah keilmuan para penerima manfaat Baktinusa dengan mengambil banyak faedah dari tokoh yang dikunjungi. Salam hangat pun dilakukan saat Pak Rektor menyambut aktivis nusantara ini.

 

Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. menceritakan perjalanan beliau hingga menjadi rektor UNY. Beliau merupakan orang yang sederhana namun kaya akan pengetahuan. Beliau menuturkan bahwa semuanya harus dimulai dari bawah. Sehingga ketika sudah berada diatas dengan memegang dapuk kepemimpinan dapat memahami dan memposisikan diri sebagaimana seorang pemimpin. Sosok beliau sangat diidamkan oleh para mahasiswa dan para dosen karena sifatnya yang partisipatif kolegial merupakan identitas beliau. Tidak sedikit orang yang menyukai beliau dan menyam]njung beliau dengan gaya kepemimpinannya. Berikut hal yang harus dipegang pemimpin menurut beliau :

 

Ada 3 falsafah utama yang harus dipegang teguh seorang pemimpin yakni ngerti, ngroso, dan ngelaksanakno. Ngerti dimaknai bahwa seorang pemimpin harus memahami kondisi dan permasalahan yang ditemui di lapangan. Ngroso dimaknai bahwa seorang pemimpin harus memahami menjadi seorang yang dipimpin sehingga dapat memimpin dengan lebih bijak. Ngelaksanakno, dimaknai bahwa seorang pemimpin harus visioner, memiliki target yang jelas dan harus melaksanakan apa-apa yang sudah direncanakan guna mencapai tujuan bersama.

 

Selain itu, beliau juga menuturkan bahwa kepemimpinan harus dibangun kemampuan manajerial yang baik. Sehingga mampu mewujudkan iklim kepemimpinan yang partisipatif dan kolegial. Rektor UNY yang biasa disapa Prof. Tris ini pun berpesan kepada para anak muda bahwa hidup harus selalu kerja keras sebagaimana petuah itu dijadikan moto utama hidupnya. Kerja keras dalam berbagai hal, termasuk menentukan tujuan hidup.

 

Everything by design and we design our own world-tanpa mengesampingkan takdir Allah tentunya. Lakukan semuanya sesuai rancangan yang telah dibuat, tahapan demi tahapan, dan teruslah berinovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar