TANPA JUDUL – BAKTI NUSA

TANPA JUDUL

Selayaknya sebuah tulisan, idealnya harus mempunyai judul yang merepresentasikan isi dari tulisan tersebut. Seperti sebuah kemasan produk yang mempunyai desain dan nama yang menarik perhatian calon konsumen, tulisan juga perlu dikemas dengan menarik agar orang lain mau membacanya. Akan tetapi, sadarkah anda sudah membaca sedikit gabungan kalimat dari tulisan ini tanpa memperdulikan judulnya? Jika anda masih tertarik untuk melanjutkan untuk membacanya, selamat membaca!

Tidak sedikit orang yang memberikan penilaian dari apa yang dilihat dan dirasakan secara sekilas. Orang akan lebih mudah membedakan mana seorang gelandangan dengan pekerja kantoran dari pakaian yang dipakai. Tidak sedikit pula dosen yang menyebut mahasiswanya cerdas karena sering menjawab pertanyaan dibandingkan mahasiswa lain yang kurang aktif menjawab. Ketika penulis memberikan contoh tersebut, tentunya ada beberapa pembaca yang menilai penulis terlalu idealis dalam memberikan perspektif tentang indikator penilaian seseorang, dan itulah point yang ingin penulis sampaikan. Tentang idealisme.

Penulis berpandangan bahwa dalam menilai seseorang tidak bisa hanya mengandalkan satu indicator fisik (bisa dirasakan dengan panca indera). Masih ada indicator lainnya yang patut dipertimbangkan. Hanya saja persoalannya adalah tujuan penilaian tersebut dilakukan. Apakah sebatas untuk mengenal atau tujuan lain seperti seleksi karyawan dan tujuan spesifik lainnya. Akan tetapi, dalam tulisan ini penulis bukan akan membahas tentang hal tersebut.

Idealisme menurut KBBI adalah “aliran ilmu filsafat yang menganggap pikian atau cita – cita sebagai satu – satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami”. Lebih mudahnya idealisme dalam KBBI diterjemahkan sebagai cara hidup atau berusaha hidup menurut cita – cita/patokan yang dianggap sempurna. Sumber lain menyebutkan bahwa idealisme adalah keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya, dan kebiasaan.

Singkat kata, penulis mendeskripsikan idealisme sebagai keyakinan terhadap suatu hal dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, budaya, dan sejarah yang termanifestasikan dalam perilaku dan sikap. Bangsa Indonesia mempunyai idealisme sebagai sebuah bangsa yang merdeka dari apapun, termasuk merdeka dari agresi ideology asing yang merusak generasi muda. Tapi, apakah idealisme bangsa yang sering digaungkan sebagai sikap nasionalisme yang wajib ada di benak setiap rakyat masih tertanam dengan kuat? Apa buktinya?

Anda akan dengan mudah menemukan opini baik berupa tulisan atau konten lain seperti video yang membicarakan tentang kompleksitas problematika yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Ada yang bernada optimis, tak tak jarang pesimis. Tidak sedikit yang menyebut miris melihat perilaku rakyat yang kini sering disebut sebagai “warga +62”. Mulai dari melanggar lalu lintas, tidak tertib dalam antrian, saling mencemooh, menyudutkan minoritas, bahkan mengadu domba.

Lantas, apa yang menjadi problematika dalam tulisan ini? Sangat banyak, penulis miris ketika melihat fenomena adu argument di televise sudah dijadikan bahan hiburan dan ajang pencitraan sebagai pembuktian kepada public bahwa dirinya paling benar atas pihak lainnya tanpa mengedepankan adab dan sopan santun dalam bertutur kata. Tidak sedikit orang – orang yang sebenarnya bukan kapasitasnya untuk berbicara tentang suatu hal memberanikan diri untuk berbicara bahkan membuat fatwa.

Tentunya hal tersebut membuat masyarakat resah dan merusak kerukunan yang sudah lama terjalin dengan baik. Sebagai contoh adalah kerukunan antar umat beragama yang saat ini sedang tidak baik – baik saja. Satu pihak memperbolehkan mengucapkan selamat hari raya untuk umat lain, sementara pihak lain melarang. Meskipun sepele, akan tetapi jika dibiarkan maka setitik bara mampu menjadi kobaran api yang besar.

Maka, saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis idealisme. Sebuah keyakinan yang terpatri dalam diri bahwa kita semua adalah rakyat Indonesia yang berasal dari berbagai suku dan agama. Tidak perlu mempermasalahkan perbedaan yang ada, cukup menghormati tanpa mencederai. Ketika dalam kepercayaan lain dikatakan bahwa orang diluar kepercayaan tersebut sebagai pihak yang salah, maka cukup hormati tanpa harus sakit hati. “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”.

Tidak perlu mempermasalahkan “judul” suku mu apa, agamamu apa, pilihanmu apa, dan lain sebagainya. Selama masih Warga Negara Indonesia (WNI), tugas dan kewajiban kita adalah sama.

Khabib Anwari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar