Revolusi Energi? Bagaimanakah caranya? – BAKTI NUSA

Revolusi Energi? Bagaimanakah caranya?

Revolusi Energi? Bagaimanakah caranya?

Energi merupakan topik yang menarik untuk diperbincangkan mengingat energi semakin lama semakin menipis jika tidak dilakulkan antisipasi untuk mengatasinya. Oleh karena itu, diperlukan ide-ide alternatif untuk mengganti energi tak terbarukan secara perlahan. Energi alternatif ada banyak jenisnya, mulai dari air, angin, surya atau matahari, maupun tumbuhan. Energi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Semakin berkembangnya teknologi saat ini, membuat kebutuhan pasokan energi menjadi meningkat drastis. Penyebab dari hal tersebut, salah satunya adalah faktor ekonomi. Dengan dipermudahnya perekonomian saat ini, membuat perubahan nasional yang cukup dinamis. Bahkan abad 20 ini sudah termasuk ke dalam era-digital dimana semua alat serba instan dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau. Memang masyarakat semakin dimudahkan akan urusan terkait pekerjaan. Namun, disisi lain energi yang diperlukan untuk mengatasi pasokan alat digital tersebut juga akan semakin besar. Energi yang diperlukan salah satunya adalah energi listrik.

Energi listrik sangat berpengaruh pada aktivitas sehari-hari. Energi listrik dapat digunakan sebagai penerangan di malam hari, suplai energi pada baterai gawai, dan alat rumah tangga lainnya. Jika energi listrik mengalami kekurangan, maka akan berkesinambungan juga pada pertumbuhan ekonomi yang juga melambat. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan adi dalam situsenergi.com. Dalam supply listrik selama ini, ada PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) yang bisa menghasilkan listrik dalam kapasitas besar dan juga stabil dan bersih. Selain itu ada juga PLTU batubara juga bisa berkapasitas besar dengan listrik yang juga stabil tapi kurang bersih karena menghasilkan debu. Namun energi tersebut jika digunakan secara terus menerus akan habis. Maka perlu energi terbarukan yang lain untuk menciptakan listrik. Misalnya geothermal, surya, angin, biomas, hydro, arus laut. Untuk PLT Surya, angin, biomas, mikro hydro, listrik yang dihasilkan bersih namun tidak stabil dan kapasitasnya kecil. Untuk mencukupi suplai listrik nasional akan diperlukan energi yag besar pula. Sedangkan PLT Geothermal listriknya stabil dan bersih dengan kapasitas sedang dan potensinya sangat besar (sekitar 27.000 MW) namun baru sekitar 5% yang dikembangkan termasuk yang ada di NTB (Nusa Tenggara Barat). Hal ini tentu saja memiliki potensi untuk mencukupi kebutuhan listrik dalam taraf yang lebih besar tanpa khawatir akan habisnya sumber daya yang ada. Sejauh ini, energi listrik masih belum merata penyebarannya. Hal ini sesuai dengan keluhan jokowi pada 2016 silam yang dimuat pada economy.okezone. Dan hingga saat ini pun penyebaran listrik juga masih belum merata apalagi di daerah 3T. Oleh karena itu diperlukan pasokan listrik yang lebih besar dan diperlukan pula perluasan pemerataan listrik hingga dapat mencapai seluruh bagian nusantara.

Berbicara tentang listrik, listrik sangat dibutuhkan oleh masyarakat hingga kurang tercukupi. Berkebalikan dengan hal tersebut, sampah tidak dibutuhkan oleh masyarakat hingga jumlahnya menumpuk dan melebihi semestinya. Jika dibiarkan, sampah-sampah ini akan terus menjadi gunung dan anak cucu kita nanti tidak akan dapat menikmati indahnya alam ini. Berdasarkan kedua hal tersebut, dapat dibuat suatu relasi yang saling berkaitan. Dengan mengurangi sampah,energi juga dapat bertambah. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan dibuatnya pembangkit listrik tenaga sampah. Pembangkit listrik tenaga sampah sendiri sudah mulai beroperasi di beberapa daerah seperti di Surabaya, Solo, Aceh dan sebagian kota lainnya. Hanya saja akan lebih baik jika pembangkit listrik tenaga sampah ini dapat digunakan di seluruh daerah nusantara. Harapannya, pasokan listrik akan lebih memadai hingga sampai ke pelosok negeri melalui sampah.

Sampah merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi. Sejalan dengan hal tersebut, Undang-Undang No. 18 tentang definisi sampah juga menyatakan bahwa sampah adalah sisa-sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau dari proses alam yan berbentuk padat. Sampah dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sampah berdasarkan sumbernya (misalnya sampah alam, sampah manusia, sampah konsumsi, sampah B3(Limbah Radioaktif)), sampah berdasarkan sifatnya (misalnya sampah organik dan non organik) serta sampah berdasarkan bentuknya (misalnya sampah padat dan sampah cair).
Untuk menjadikan sampah menjadi energi listrik, maka diperlukan PLTSa. PLTSa (Pembangkit listrik Tenaga Sampah) merupakan pembangkit yang menghasilkan listrik dengan bahan utama berupa sampah, baik sampah organik maupun non organik. Mekanisme pembangkitan listriknya dapat dilakukan dengan metode pembakaran (thermal) maupun secara biologis (Landfill gastification). Pada dasarnya PLTSa adalah PLTU berbahan bakar sampah sehingga prinsip kerjanya pun tidak jauh berbeda dengan PLTU.

Konsep pengolahan sampah menjadi energi berdasarkan Waste to Energy, Tribun (2007), diantaranya adalah:
1.Pemilahan Sampah
Sampah yang ada dipilah terlebih dahulu untuk keperluan daur ulang dan sisanya akan masuk ke dalam tungku Insinerator untuk dibakar.
2.Pembakaran Sampah
Pembakaran sampah menggunakan teknologi pembakaran yang memungkinkan pembakaran berjalan efektif dan aman bagi lingkungan. Suhu pembakaran dipertahankan dalam derajat yang tinggi, yaitu diatas 1300 derajat celcius. Asap dari hasil pembakaran sampah juga dikendalikan agar sesuai dengan standar baku mutu emisi gas buang.
3.Pemanfaatan Panas
Hasil pembakaran sampah akan menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan untuk memanaskan boiler. Uap panas yang dihasilkan akan digunakan untuk memutar turbin dan menggerakkan generator listrik.
4.Pemanfaatan Abu Sisa Pembakaran
Sisa dari proses pembakaran sampah adalah abu. Volume dari berat abu yang dihasilkan diperkirakan hanya kurang dari 5% dari berat atau volume sampah semula sebelum dibakar. Di negara maju yang lain, sisa pembakaran ini akan digunakan menjadi bahan baku batako atau bahan bangunan lainnya setelah diproses. Untuk mengatasi senyawa berbahaya berupa Dioxin, PLTSa dapat dilengkapi dengan sistem pengolahan emisi dan enfluen sehingga polutan yang terbentuk akan berada di bawah standar baku mutu gas buang yang berlaku di Indonesia serta tidak mencemari lingkungan.

Kenapa harus sampah?
Perlu kita ketahui bahwa potensi daya yang mampu dibangkitkan oleh sampah dalam 1190,7 ton dapat menghasilkan 1.597,9-3.069,6 GJ dengan permintaan daya yang tersedia/ demand sebesar 18,5-35,5 MW. Dan daya yang dapat dibangkitkan/ supply sebesar 5,5-10,65 MW. Serta produksi listriknya sebesar 217,26 MWh. Bayangkan jika semua itu dapat diolah dalam sehari, maka dalam satu tahun dapat memproduksi energi listrik sekitar 72.420 MWH.

Ditinjau dari perspektif kepemudaan, ini merupakan peluang emas karena sampah bisa menjadi energi terbarukan karena dalam prosesnya, sampah akan senantiasa mengalami perputaran. Dari barang baru- barang pakai- barang tak dipakai- sampah- pengolahan sampah – energi baru- bermanfaat bagi manusia. Hanya saja, tantangan yang harus dihadapi adalah terkait hasil yang diperoleh dari proses pembakaran misalnya asap bisa menambah polusi udara. Solusinya, pemuda bisa digerakkan dalam hal ini untuk melakukan kegiatan penanaman pohon di sekitar PLTSa. Selain itu, lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari sampah yang ada di TPA juga akan berkurang. Solusinya, pemuda juga bisa digerakkan untuk membangun komunitas bagi pemulung, masyarakat lokal, dan tokoh masyarakat yang lain agar aspirasi masyarakat juga dapat didengar secara langsung.

Pada tahap awal proses mengubah sampah menjadi energi di PLTSa, terdapat proses pemilahan sampah. Dalam hal ini, para pemuda juga dapat turut andil didalamnya. Hanya saja, sampah yang ada di TPA sudah tercampur baur dan akan membutuhkan waktu yang relatif lama jika pemuda yang digerakkan sangat sedikit untuk memilah sampah tersebut. Untuk mengatasinya, pemuda di Indonesia bisa mulai membuat program bank sampah pula. Memang bank sampah sudah berjalan di beberapa daerah, namun belum secara menyeluruh tersosialisasi di kampung-kampung kecil. Harapannya, dengan tersosialisasinya bank sampah nanti, perekonomian masyarakat juga dapat meningkat. Selain itu pemilahan sampah untuk proses pembuatan energi baru juga akan menjadi lebih cepat. Dan hasil olahannya juga akan secara otomatis menjadi lebih banyak.

Dari beberapa paparan diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa energi listrik saat ini diperoleh dari energi yang tidak terbarukan. Jika digunakan secara terus menerus, kemungkinan suatu saat akan habis. Untuk mengatasinya diperlukan energi alternatif. Energi alternatif sangat beragam misalnya energi surya, angin, biomas, mikro hydro yang dapat digunakan untuk menghasilkan listrik walaupun dalam skala kecil. Oleh karena itu, diperlukan energi yang lainnya yang senantiasa terbarukan karena adanya proses siklus perputaran. Salah satunya adalah digunakannya sampah sebagai sumber energi listrik. Dengan digunakannya sampah, maka diperlukan PLTSa untuk mengolahnya. PLTSa memiliki beberapa konsep pengolahan, diantaranya Pemilahan Sampah, Pembakaran Sampah, Pemanfaatan Panas, danPemanfaatan Abu Sisa Pembakaran. Namun dalam prosesnya, PLTSa juga memiliki dampak terhadap lingkungan sekitar maupun masyarakatnya. Sehingga diperlukan peran pemuda untuk turut andil di dalamnya. Pemuda adalah Agent of Change yang harapannya dapat mengatasi masalah yang ada di sekitar. Dalam hal ini, peran pemuda yang dapat dilakukan dalam rangka ketahanan energi yaitu mendukung adanya PLTSa ini. Selain mendukung, pemuda di Indonesia juga dapat mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh didirikannya PLTSa itu sendiri. Peran pemuda disini sebagai pelopor adanya kegiatan reboisasi dengan penanaman sabuk hijau (greenbelt) seluas 7 hektar, pelopor berdirinya komunitas bagi pemulung, masyarakat lokal, dan tokoh masyarakat. Serta pelopor dalam proses sosialisasi serta pembentukan bank sampah pada daerah yang belum terjamah. Hal ini dilakukan demi terciptanya energi yang lebih banyak, dan tercukupinya kebutuhan energi listrik dari masa kini hingga masa datang, dari kota maupun pelosok yang jarang dipandang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar