Representasi Anak Desa Melawan Kerterbatasan – BAKTI NUSA

Representasi Anak Desa Melawan Kerterbatasan

Oleh Jhoni Iskandar

Apa yang ada dibenakmu ketika mendengar kata Anak Desa? Ya kalian punya definisi sendiri ya. Anak desa bagi saya, mereka yang takut bermimpi besar. Itu pernah aku alami sendiri.

 

 

 

Ceritanya panjang, tapi aku berusaha menceritakannya singkat tapi jelas, bukan kayak hubungan orang-orang, lama tapi gak jelas hehehe. Gini, aku Anak Desa yang waktu kecil gak pernah kepikiran mau kuliah, bahkan dengan definisi mimpi aja aku gak tau. Sekolah itu caraku menghindari diri buat diajak ke ladang dan ke kebun. Durhaka banget aku dulu ya, jangan dicontoh ini perbuatan gak baik. Ya kalau aku sekolah karena belajarnya yang rajin bagus juga, ini rapot SD aku itu banyak tulisan pakai pena merahnya karena nilainya rendah. Ya aku santai aja dulu, apa yang aku mau selalu dituruti ama bapak. Terlalu dimanja membuat aku terlena. Sikat ceritanya, kebiasaan buruk itu masih tetap berlanjut sampai aku di SMP. Hampir lima SMP yang aku rasakan dengan permasalahan yang berbeda-beda kenapa keluar.

 

 

 

Singkatnya, waktu kelas dua SMP orang tua aku jatuh bangkrut. Waktu itu aku benaran merasakan hidup pada kondisi tersulit. Tapi itu dulu, sekarang bagi aku itu hal biasa. Apalagi makin dewasa permasalahan lebih rumit dan lebih deras datang. Tapi jangan mengeluh, bukankah Allah itu memberikan sesuatu tak akan pernah melampaui kemampuan kita. Ketika kita yakin dan melibatkan Allah dalam hidup kita, tenang semua akan baik-baik aja.. kalau kata anak zaman sekarang dibawa santai aja. Aku benaran merasakan lingkungan yang tidak senang di sini, aku ngerasain perbedaan lingkungan yang membuat aku gak betah lagi tinggal di desa ini. Tekad aku saru dulu, mau cepat-cepat lulus agar pergi dari desa ini. Yahhh tujuan aku mau ke kota, sejak itu aku udah ngomong sama orang tua kalau selesai SMP  mau ke kota. Yahhh orang tua mahh merestu aja, tapi ditanya uang dari mana mau SMA ke kota? Dengan sombongnya aku jawab, ntar aku cari kerjaan biar bisa nabung.

 

 

 

Kelulusan udah di ujung tanduk, tabungan aku sudah ada. Angin segar nampaknya akan membawa aku ke kota. Yahhh Kota Palembang menjadi saksi perjuangan aku. Di sinilah aku bisa menemukan sebuah arti mimpi. Gagal masuk SMA negeri waktu itu, tidak menyurutkan niatku untuk mengapai mimpi. Di SMA yang biasa aja tapi aku gak mau jadi orang biasa-biasa. Kerja keras untuk dapat nilai bagus agar bisa kuliah. Bukan hal yang mudah bagiku, sekolah sambil kerja. Aku selalu yakin pasti bisa. Semua ku jalani dengan ikhlas dan sabar, dan Alhamdulillah perjuangan itu tidak sia-sia. Mungkin dahulu mimpi itu aku anggap hal yang besar, setelah saat ini aku tau jawabannya. Tidak ada mimpi yang besar hanya aja keyakinan kita yang terbatas. Dulu aku pengin kuliah agar bisa masuk di perusahaan ternama. Tapi aku naikan cita-cita itu gimana ketika kuliah aku bisa menjadi orang sukses. Alhamdulilalah berkat mimpi itu semua, aku bisa seperti ini. Aku bisa merasakan apa yang pernah aku tulis aku conteng karena sudah aku penuhi. Aku mau sarani buat kalian kalau mau bermimpi, bermimpilah menjadi seperti aku orang yang beruntung. Dengan kemampuan yang ala kadarnya bisa tergabung dalam lingkaran kebaikan beasiswa Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar