Pola Kaderisasi dan Optimalisasi Peran Pemuda di Desa Sriwedari – BAKTI NUSA

Pola Kaderisasi dan Optimalisasi Peran Pemuda di Desa Sriwedari

Universitas Pemuda Desa Indonesia (UNPEDEIN)

Konsep optimalisasi peran pemuda ini adalah “pemuda kampus belajar kepada pemuda kampung, pemuda kampong belajar kepada pemuda kampus”. Maka objek sekaligus objek program adalah pemuda desa yang sudah punya kompetensi (seperti aktivis kampus yang asli dari desa). Program ini mengajak mahasiswa PTN/PTS di Yogyakarta untuk ikut pendidikan dan pelatihan tentang optimalisasi potensi sebuah desa. Peserta akan mengikuti diklat selama 2 bulan dengan jam pelajaran 3 kali pertemuan dalam seminggu. Peserta akan dibawa ke desa dengan mobil desa untuk langsung berkolaborasi dengan pemdua dalam rangka mengelola potensi desa. Mulai dari analisis potensi, rancangan program, hingga realisasi dan evaluasi. Dalam kegiatan tersebut akan terjadi pola interaksi dan transfer ilmu serta ketrampilan baik dari mahasiswa ke pemuda dan masyarakat maupun sebaliknya. Melalui program ini, para pemuda yang menjadi sosok utama dalam optimalisasi peran pemuda akan terbantu dengan kehadiran mahasiswa. Program dan fasilitasi lain dalam rangka optimalisasi peran pemuda juga dikolaborasikan dengan mahasiswa peserta UNPEDEIN yang berganti setiap 2 bulan sekali.

 

Pendampingan dan optimalisasi Karang Taruna Dusun dan Desa.

Program ini merupakan bentuk fasilitasi dan pendampingan kepada pemuda dalam rangka mengaktifkan kembali organisasi kepemudaan di desa. Langkah strategis yang dilakukan adalah dengan brain storming pemuda dalam sebuah pertemuan. Mereka diajak untuk open mind terhadap masyarakat yang membutuhkan peran pemuda. Hal itu dilakukan agar pemuda tersadar dan mau tergerak untuk melakukan berbagai langkah perjuangan secara aktif dan produktif. Tahap selanjutnya adalah pendampingan dan fasilitasi seperti transfer knowledge tentang administrasi organisasi, leadership, relasi untuk sponsorship, manajemen konflik, penyusunan program kerja, dan lainnya.

 

Desa Wisata (Kampung Wisata Ndeso)

Kampong Wisata Ndeso adalah hasil samping dari program utama optimalisasi peran pemuda. Konsep desa wisata ini mampu mengakomodir potensi SDA maupun SDM yang bersifat komersil dan profit sehingga dapat menambah pemasukan warga. Selain itu, konsep desa wisata ini juga sebagai lapangan pekerjaan baru bagi para pemuda sehingga tidak perlu merantau.

Faktor utama yang paling penting dalam program desa wisata bukan hanya mengenai potensi sumber daya alamnya saja. Pengelolaan sumber daya manusia yang baik menjadi faktor paling utama keberhasilan program. Bekal potensi sumber daya alam dan kemajuan teknologi menjadi sarana bagi para pemuda untuk mengembangkan potensi wisata di Desa Sriwedari. Konsep Kampung Wisata Ndeso yang menyuguhkan berbagai ide kreatif dari pemuda membuktikan pemasukan keuangan yang menjanjikan. Apabila dikembangkan lebih lanjut, maka program-program Kampung Wisata Ndeso bisa menjadi aset yang menjanjikan sebagai cikal bakal terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

 

DEMIT (Desa Melek IT)

Desa Melek Internet dan IT merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi pemuda yang suka terhadap dunia teknologi dan informasi. Selain itu, akses internet yang dibangun oleh desa juga perlu dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif dan produktif. Dengan program ini, pemuda diarahkan untuk menggunakan kemampuannya di bidang IT untuk bersama membuat produk maupun jasa komersil sehingga mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Salah satu yang sudah dihasilkan dari program ini adalah chanel YouTube kampong wisata ndeso official yang memuat video – video kreatif pemuda.

 

Pendampingan dan optimalisasi TPA

Dari sisi pendidikan, program pendampingan dan optimalisasi TPA menjadi fokus kami. Selain untuk mengajak anak – anak mengaji, program ini juga dapat berkolaborasi dengan sekolah sebagai lembaga pendidikan non formal.

Perkembangan dunia pendidikan yang dikuasai oleh pemuda Desa Sriwedari menjadi keuntungan untuk program optimalisasi TPA. Pelatihan rutin yang ditujukan sebagai pengembangan kemampuan pedagogik guru TPA menjadi sarana percepatan optimalisasi kegiatan. Selain itu, kami juga sangat memberi perhatian terhadap kesejahteraan guru TPA. Hasil subsidi yang didapat dari Kampung Wisata Ndeso menjadi sumber dana bagi kesejahteraan pendidikan, termasuk dalam hal kesejahteraan pengajar TPA.

Selain berfokus pada pendidikan agama, melalui implementasi konsep “tut wuri handayani” yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara kami membentuk kelompok belajar “Ngepit (Ngetos Pintar)” yang berfokus pada pendidikan formal. Para pelajar senior mempunyai tugas untuk membimbing adik – adik juniornya sehingga keduabelah pihak bisa saling belajar dan membelajarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar