PEMUDA, HARUS JADI PEMIMPIN OTENTIK – BAKTI NUSA

PEMUDA, HARUS JADI PEMIMPIN OTENTIK

PEMUDA, HARUS JADI PEMIMPIN OTENTIK

Persoalan kepemimpinan atau dalam hal ini pemimpin selalu menjadi bahasan yang hangat dan tidak bisa kita kesampingkan. Mekanisme yang mengatur peralihan kekuasaan selalu menunjukan dan melahirkan harapan baru mengenai pemimpin atau kepemimpinan yang akan dibuat kedepan. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa pemuda selalu identic dengan pemimpin, dan selalu identic dengan dia yang selalu menjadi pelaku sejarah, bukan penikmat apalagi hanya sebatas penonton sejarah. Sejarah di Republic ini pun telah membuktikan bahwa kesadaran serta optimisme kolektif selalu dibangun dan dipupuk oleh para pemimpinnya.

Berbeda dengan teori kepemimpinan lama, yang berorientasi pada “gaya” kepemimpinan, termasuk teori tentang “tokoh besar” (the great man theory) dan kepemimpinan berbasis kompetensi (competency-based leadership), kepemimpinan otentik ini lebih banyak dijelaskan melalui proses (transformasi) dalam pembentukan atau pengembangannya.

Bill George, profesor dari sekolah bisnis Harvard dan penulis buku Authentic Leadership (2004) secara sederhana mendefinisikan kepemimpinan otentik sebagai kepemimpinan yang punya hati nurani. George yang pernah menjadi CEO sebuah perusahaan terkemuka, kemudian menerbitkan buku best seller berjudul True North Pada tahun 2007 dan diperbarui pada tahun 2015. Dalam bukunya tersebut George mengatakan pula bahwa pemimpin yang otentik itu sesungguhnya adalah pemimpin yang EQ (Emotional Quotient) nya tinggi. Dengan EQ manusia yang bisa terus bertumbuh dan berkembang, pemimpin otentik juga dapat terus mengembangkan kepemimpinannya.

Berkaca pada apa yang ada di sekitar kita mengenai kepemimpinan dan pemimpin, saat ini kita merasakan kondisi dimana minim asupan karakteristik pemimpin otentik dari para pemimpin kita. Dari pengalaman mengenal dan menjadi orang yang berada pada pucuk pimpinan sebuah organisasi, saya kerap sekali menjumpai dan mendapatkan pengalaman serta pembelajaran mengenai kepemimpinan. Terutama karakteristik mengenai kepemimpinan otentik. Kepemimpinan otentik  setidaknya selalu memiliki beberapa ciri atau karakteristik. Pertama, pemimpin yang otentik itu menyadari dirinya dan “apa adanya” atau asli (genuine). Mereka mengaktualisasi diri, dan sadar akan kekuatan, keterbatasan, dan emosi-emosinya. Mereka juga menunjukkan siapa dirinya yang asli kepada pengikut atau bawahannya. Mereka tidak bersikap lain di lingkungan pribadi atau di tempat umum. Mereka sadar bahwa mengaktualisasikan diri merupakan proses yang tidak pernah berakhir.

Kedua, para pemimpin otentik itu digerakkan oleh misi (mission driven) dan berfokus pada hasil. Mereka menempatkan misi dan tujuan organisasi di atas kepentingan pribadinya. Mereka melaksanakan pekerjaannya untuk mencapai hasil, tidak mencari kekuasaan, kekayaan atau memuaskan egonya.

Ketiga, para pemimpin otentik memimpin dengan hatinya, tidak hanya dengan pikirannya. Dalam menghadapi situasi yang dinamis, mereka tidak takut menunjukkan kewaspadaan dan kekhawatirannya, dan menyampaikan kepada anggotanya. Tidak berarti mereka lemah. Tetapi mereka tidak cuma menjaga citra (image), mereka mengedepankan rasa dan ikatan emosional dalam sebuah hubungan organisasi, kerjaan ataupun lembaga.

Terakhir, pemimpin otentik berorietasi jangka panjang pastinya, memiliki visi serta narasi yang jelas, tidak hanya untuk kepentingan yang sesaat dan cenderung opurtunis atau pragmatis supaya terpilih sebagai pemimpin saat ada proses pemilihan. Para pemimpin otentik tidak hanya berpikir mejalankan tugas-tugas yang berjangka waktu bulanan, triwulanan, tetapi berjangka panjang. Dia peduli dan memikirkan organisasi, perusahaan, daerah atau wilayah administratif yang dipimpinnya dalam jangka panjang. Termasuk berpikir tentang inovasi-inovasi yang perlu dilakukan untuk menghadapi perubahan jangka panjang.

Dalam situasi saat ini, kondisi politik dan ekonomi bisa berubah setiap saat dengan disrupsi teknologi dan digitalisasi ekonomi. Perilaku pasar atau masyarakat pada umumnya juga cepat berubah, akibat beralihnya dominasi generasi baby boomers kepada generasi milenial, yang lebih demokratis, ingin berperan aktif (partisipatif), mencari yang unik, organik, dan lokal. Dengan situasi seperti ini tentu kita tidak berharap, atau percaya, pada pemimpin yang hanya mengobral pidato, karisma, dan sok yakin tentang masa depan. Yang kita perlukan dalam situasi saat ini justru pemimpin yang punya kepercayaan diri, bervisi jangka panjang ke depan, tetapi sekaligus cukup realistis untuk mengakui bahwa dia dan kita semua memang sedang menghadapi situasi yang menjanjikan peluang, tetapi juga penuh tantangan ketidak pastian.

Kepemimpinan otentik selalu identic dengan dia yang memiliki mental berani. Yang tidak takut dengan cacian, makian, hujatan bahkan fitnahan. Seorang pemimpin otentik selalu membuat kondisi dan situasi sekitarnya menjadi  nyaman dan tenang sebab dia selalu memiliki narasi serta visi yang jelas, sebab seorang pemimpin otentik bertugas membuat yang abstrak menjadi nyata dan membuat yang samar-samar menjadi terang benderang.

Akhirnya, dalam menghadapi situasi dan kondisi ketidakpastian kepemimpinan dalam organisasi, atau yang lebih luas lagi bangsa dan negara juga perlu perubahan. Masyarakat atau anggota mungkin tidak membutuhkan sekedar tokoh besar penuh karisma. Tetapi mereka butuh kepemimpinan yang tampil jujur, punya visi masa depan yang menginspirasi, namun sekaligus rendah hati, santun, terbuka, dan siap mendengarkan masukan dari orang lain. Pemimpin dan kepemimpinan adalah seni yang semuanya bermula dari pembelajaran. Aspek menjadi pembelajar dengan mental rakyat adalah aspek yang harus dimiliki oleh mereka yang akan dan sedang belajar menjadi pemimpin otentik, dan pemuda sudah seharusnya menjadi pemimpin yang otentik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar