No Hijab Day, Santuy Ga Nih? – BAKTI NUSA

No Hijab Day, Santuy Ga Nih?

Ditulis oleh Musfira Muslihat (PM BAKTINUSA 9 Regional Yogyakarta)

Tepat 1 Februari 2020, hari beberapa orang menggunakan hasthag #nohijabday dan #freefromhijab, lalu membumingkan media sosial Indonesia. Langkah tersebut merupakan campaign yang bertujuan untuk menantang muslimah agar melepaskan hijabnya dalam waktu satu hari dan mempostingnya dimedia sosial. “Yoi, lepasin hijabnya seharian doang kok, sehari doang”, itulah narasi yang dibawakan oleh campaign #nohijabday.

“Lumayan loh hadiahnya, yakin ga mau ikut nih?”. Tulisan ini hanya tulisan sederhana dan menjadi pengingat bagi umat beragama, termasuk penulis. Hijab merupakan bagian dari umat muslim untuk taat pada tuhannya, terlepas akan semua manfaat yang diperoleh saat menggunakan hijab. Ketika seorang perempuan yang beragama islam dan sudah baligh maka di dalam islam, ia diharuskan menggunakan hijab dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Mudah saja dalam menaati aturan satu ini (red: berhijab), seperti: 1. kamu seorang perempuan yang menyakini Allah adalah Tuhanmu, dan Muhammad adalah utusan tuhanmu; 2. kamu adalah orang yang berakal (mampu menimbang perkara baik dan buruk); 3. kamu sudah sampai diusia dewasa (baligh); 4. cukup menggunakan hijab di luar rumah atau saat bersama orang-orang yang tidak boleh melihat bagian tubuh kamu, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Sederhana bukan?

Tidak hanya sampai disitu, aturan menggunakan hijab dalam islam pun sangatlah mudah. Kamu bisa memilih gaya hijab sesuai kepribadian kamu, asalkan hijabnya menutupi seluruh badan kecuali yang tidak wajib ditutupi, hijabnya tuh bukan perhiasan, kain untuk hijab tebal, lebar dan tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak diberi parfum yang menyengat, tidak mirip dengan perempuan yang tidak percaya Allah, dan pakainnya tidak menarik perhatian. Aturan tersebut sudah sangat cocok dengan kepribadian perempuan yang sebenarnya ingin dihormati, ingin dilindungi, dan ingin memberikan kontribusi bagi banyak masyarakat. Semua perempuan tuh cantik, oleh sebab itu agar perempuan dapat semakin berkontribusi kemasyarakat maka aturan hijab hadir untuk melindungi perempuan. Bayangin ga? jika perempuan berkontribusi di tengah masyarakat tapi ternyata pendapat dan aktivitas yang dilakukannya sia-sia karena orang-orang hanya berfokus pada paras bukan dari pendapatnya. Ok, sampai di sini aturan hijab sebenarnya sangat mudah dilakukan tapi dengan satu syarat.

Syarat yang dapat memudahkan kita untuk menggunakan hijab adalah cinta. Ihiy, semua yang dirasa mudah memang berawal dari cinta, bukankah hal yang biasa akan membuat nyaman, yaps karena dari kebiasaan tersebut sudah menumbuhkan cinta. Diawali dengan, “Aku yakin kok, tuhanku Allah, Allah sayang banget sama aku, ia menciptakan oksigen gratis, alam yang indah, dan menghadirkan orang baik dihidupku”. Perasaan itulah yang harus pertama kali tumbuh untuk beragama islam dengan mudah, perasaan kalau cinta Allah pada hambanya tuh besar banget. Sama halnya kalau “ibuku tuh sayang banget sama aku, aku masih ingat kok pengorbanan ibu, ibu yang bantuin tugas sekolahku dan ibu masakin aku makanan terenak”, kalau dah tumbuh perasaan cinta tersebut maka ketika ibu menyuruh aku untuk berangkat sekolah pagi-pagi, aku akan dengan mudah melakukannya, aku yakin “ibu nyuruh aku berangkat sekolah pagi-pagi, pasti akan ada kebaikan didalamnya”. Itulah logika sederhana untuk memunculkan ketaatan dalam memeluk agama. Munculkan perasaan cinta tersebut pada Allah. Tau ga sih? perintah hijab itu emang untuk perempuan, tapi pihak laki-laki (ayah, suami, dan saudara laki-laki) pun bertanggung jawab untuk menumbuhkan perasaan cinta kepada tuhan agar pihak perempuan dengan senang hati menaati agama Allah dengan berhijab. Yaps, sesederhana itu.

Diakhir tulisan ini, perlahan umat muslim akan mendekati kejayaannya. Kejayaan umat muslim bukan berawal dari paksaan tapi berawal dari cara pandang menggunakan ilmu. Salah satu caranya adalah dengan belajar sungguh-sungguh untuk memahami cara pandang menggunakan ilmu dari islam (worldview). Di dunia yang aksesnya tanpa batas dan tanpa sekat maka sangat mudahlah hati kita berbolak-balik, ketika lihat si A, “ehh mau berhijab deh”, ketika lihat si B, “ehh mau gunain gaya rambut terbaru ke mall, ahh”. Oleh sebab itu ketika kita sudah memahami perasaan cinta pada Allah, mempelajari secara menyeluruh tentang aturan berhijab, dan berdoa terus pada Allah, insya Allah apapun campaign yang dilakukan di luar sana, kita akan tetap menggunakan hijab.

 

oh iya.. ada penelitian terbaru loh mengenai pekerja muslim yang menggunakan hijab di Amerika, masya Allah tantangannya. Jika berminat untuk penulis menuliskan artikel tersebut silahkan komen atau mau request tulisan lainnya seputar gender, kesehatan mental, dan psikologi, monggo!

 

 

2 thoughts on “No Hijab Day, Santuy Ga Nih?”

  1. suka! semangat firaaa. Bahas tentang inner child fir, katanya itu baiknya diselesaikan sebelum kita menikah ya? karena bakalan ada pengaruhnya waktu kita didik anak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar