Sebuah Renungan untuk Memperbaiki Permasalahan Bangsa Saat Ini. – BAKTI NUSA

Sebuah Renungan untuk Memperbaiki Permasalahan Bangsa Saat Ini.

Dalam buku The Leader of Leaders disampaikan bahwa amanah kepemimpinan mencakup 3 hal, pertama amanah moral, kedua amanah intelektualitas, dan yang ketiga adalah amanah social. Ketiga amanah ini tidak bisa kita lepaskan sebab 3 amanah ini saling berkaitan dan tentunya menjadi hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tugas seorang pemimpin memang berat sebab memang sejarah membuktikan bahwa para pemimpin bangsa kita dulu adalah orang-orang yang memang menderita. Bagi para pemimpin sejati yang tidak menyuruh orang lain sebelum menyuruh dirinya sendiri, dan tidak melarang orang lain sebelum melarang dirinya sendiri, badai terjal seorang pemimpin seharusnya mengingat kembali pentingnya kredo Agus Salim, “Leiden is Lijden” (memimpin adalah menderita). Dengan kredo tersebut, segera terbayang di ingatan kita bagaimana penderitaan K.H. Agus Salim yang hidup dengan istri dan 8 orang anaknya dalam rumah kecil dengan 1 kamar dan berjualan minyak tanah eceran untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan ketika ada acara di Jogjakarta, beliau membawa minyak tanah untuk membiayai perjalanannya, bagaimana kita mengetahui penderitaan serta perjuangan Jendral Soedirman yang memimpin perang gerilya di atas tandu. Bukan hanya K.H Agus Salim atau Jendral Soedirman, pemimpin lain pun dengan penuh kerendahan hati berlomba-lomba hidup dalam kesederhanaan, hidup dalam narasi pemimpin yang penuh dengan kesadaran diri yang berintegritas. Kita tahu bagaimana ketika menteri keuangan era Soekarno, pak Syafrudin yang tidak mampu membeli popok untuk anaknya. Perdana menteri kelima Indonesia Muhammad Natsir yang menggunakan jas tambal dan mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakannya. Kita rindu dan kita menginginkan hadirnya kembali sosok Natsir yang rela meninggalkan kuliahnya, demi memerdekakan bangsanya, berani tinggalkan zona kepastian menuju zona ketidakpastian. Bahkan seorang Mohammad Hatta tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayat. Abdul Rahman Baswedan yang harus meminjam telepon tetangganya dan tentu masih ada tokoh-tokoh besar bangsa kita yang memang menunjukan jiwa ke Negarawanannya. Mereka hadir dan mewaqafkan diri untuk sepenuhnya akan kepentingan bangsa dan negara, bukan malah menjadi penghamba atau bahkan pengkhianat bangsa dan negara.

Hari ini kita rindu teladan bangsa yang sepenuhnya hadir untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang tentu tidak di dasarkan pada aspek oportunis sebuah kepentingan pribadi atau golongan, melainkan mereka yang tulus serta ikhlas dalam menghadirkan dirinya sebagai pelayan ummat dan lebih luas untuk bangsa serta negara. Kita tahu bahwa permasalahan yang ada di bangsa kita saat ini tentunya didasarkan pada kebutuhan dan sudah di desain oleh negara atau orang-orang yang berkepentingan terhadap kekayaan alam bangsa Indonesia. Memandang permasalahan bangsa saat ini tentu tidak hanya dipandang pada salah satu sudut pandang atau salah satu aspek saja, akan tetapi kita harus memandang permasalahan bangsa kita saat ini secara komprehensif serta menyeluruh. Kita tahu, permasalahan korupsi, rasisme, radikalisme, pemindahan ibu kota, kepentingan politik dan jabatan serta permasalahan krisis kepemimpinan merupakan permasalahan yang merupakan akumulasi dari apa yang tidak bisa kita selesaikan satu persatu.

Seharusnya negara mampu hadir dan mengambil porsi yang cukup besar bahkan memang ini merupakan tugas utama negara untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Seharusnya elit serta pemimpin kita saat ini paham akan sejarah bangsa kita yang selalu berjuang dan menyelesaikan permasalahan bangsa dengan narasi besarnya yang disampaikan melalui pikiran, dan gagasan-gagasan besar serta kata-katanya. kita harusnya sadar bahwa adanya Soekarno atau yang sering disebut putra sang fajar merupakan desain dari seorang guru bangsa H.O.S Tjokroaminoto untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Putra sang fajar yang sejak awal dititipkan di rumah Pak Tjokro ini, memang dipersiapkan untuk membebaskan ibu pertiwi dari belenggu penjajah. Semoga narasi besar pemimpin bangsa saat ini kembali mampu dihadirkan sesuai dengan narasi besar pemimpin-pemimpin kita terdahulu, dan tentunya kebijakan politik serta aspek-aspek yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang luas harus dijejakan pada kesanggupan para pemimpin mengorbankan kepentingan egosentrisnya demi memuliakan nilai-nilai moral kenegaraan, yang menekankan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan tentunya keadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar