Semuanya bermula dari keresahan yang sederhana di kota tercinta, Makassar. Di tengah deru pembangunan infrastruktur dan riuhnya kehidupan kota, saya melihat ada satu jurang yang semakin lebar namun tak kasat mata: kesenjangan literasi digital.
Dunia berubah begitu cepat. Informasi membanjir tanpa bendungan, teknologi melesat tanpa permisi. Namun, di sudut-sudut komunitas kita, masih banyak anak muda dan masyarakat yang gagap merespons perubahan ini. Mereka memiliki gawai di tangan, tetapi belum sepenuhnya memiliki “kunci” untuk memanfaatkannya secara produktif dan kritis. Pendidikan formal seringkali belum cukup gesit mengejar laju transformasi digital ini.
Inilah yang menggerakkan hati saya. Saya merasa berdosa jika hanya diam menikmati kemajuan teknologi sendirian, sementara banyak saudara sebangsa yang tertinggal atau justru menjadi korban dari sisi gelap internet. Dari sinilah lahir Cerdas.in. Bukan sekadar platform, melainkan sebuah gerakan komunitas yang saya rintis dengan visi sederhana namun fundamental: menciptakan ekosistem literasi digital yang inklusif. Saya ingin pendidikan berkualitas di era digital ini bukan hanya milik mereka yang berada di kota besar atau sekolah elit, tetapi bisa diakses oleh siapa saja. Pendidikan inklusif adalah hak, bukan privilese.
Membawa mimpi ini ke panggung internasional bukanlah perjalanan yang mudah. Ketika saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi delegasi dalam Universal Islamic Event di Istanbul, Turki, perasaan saya campur aduk. Antara rasa syukur yang membuncah dan beban tanggung jawab yang berat di pundak. Istanbul bukan sekadar destinasi wisata bagi saya saat itu; ia adalah arena pembuktian bahwa ide dari Makassar layak didengar dunia.
Prosesnya penuh dinamika. Sebelum berangkat, saya dan tim kecil di Cerdas.in berjibaku menyusun materi, meriset data, dan memetakan solusi konkret yang telah kami jalankan. Kami harus memastikan bahwa model pendidikan inklusif yang kami tawarkan bukan hanya teori di atas kertas, tapi praktik nyata yang bisa direplikasi.
Saat hari presentasi tiba, atmosfer di ruangan itu begitu berbeda. Saya berdiri di hadapan para juri yang berasal dari berbagai negara Timur Tengah para akademisi dan praktisi yang kritis. Tantangannya bukan hanya pada bahasa, tetapi bagaimana menyamakan frekuensi pemikiran. Saya harus meyakinkan mereka bahwa Cerdas.in adalah jawaban atas tantangan pendidikan Islam modern yang adaptif terhadap teknologi tanpa kehilangan akar nilai.
Dengan sisa keberanian yang ada, saya memaparkan bagaimana Cerdas.in bekerja. Saya bercerita tentang anak-anak muda Makassar yang kami dampingi, tentang diskusi-diskusi literasi yang kami hidupkan, dan tentang bagaimana teknologi bisa menjadi jembatan ukhuwah jika dikelola dengan bijak. Sesi tanya jawab berlangsung intens. Para juri menggali sedalam-dalamnya tentang keberlanjutan (sustainability) dan inklusivitas program ini. Ada momen di mana saya merasa terpojok oleh pertanyaan kritis, namun keyakinan pada apa yang telah kami kerjakan membuat lidah saya ringan memberikan jawaban yang berbasis fakta lapangan.
Berada di Istanbul, di antara kemegahan sejarah Islam dan modernitas Eropa, memberikan saya perspektif baru. Momen ketika nama saya dipanggil sebagai “The Most Outstanding Delegate” adalah detik yang membekukan waktu. Jujur, ada rasa tidak percaya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Namun, penghargaan itu bukan sekadar piala untuk dibawa pulang. Itu adalah tamparan penyadar bagi saya. Saya belajar bahwa dunia ini menghargai gagasan yang tulus dan berdampak, tidak peduli dari mana asalnya. Saya belajar bahwa rasa minder sebagai “anak daerah” harus dikubur dalam-dalam. Di Istanbul, saya melihat bahwa masalah pendidikan adalah masalah universal umat manusia, dan solusi yang kita tawarkan ternyata memiliki resonansi global.
Peristiwa ini mengubah cara pandang saya terhadap kepemimpinan. Menjadi pemimpin bukan tentang siapa yang paling lantang bersuara di podium, tapi siapa yang paling berani memulai langkah kecil di tengah ketidakpastian. Interaksi dengan delegasi lain dari berbagai negara juga mengajarkan saya arti toleransi dan kolaborasi lintas budaya. Kami mungkin berbeda bahasa dan warna kulit, tapi kami memiliki satu bahasa yang sama: bahasa kemanusiaan dan perbaikan umat.
Penghargaan sebagai delegasi terbaik ini sejatinya bukan milik saya pribadi, melainkan milik seluruh relawan Cerdas.in dan anak muda Makassar yang percaya pada visi ini. Dampak terbesar yang saya rasakan adalah meningkatnya kepercayaan diri komunitas kami. Kini, Cerdas.in memiliki jejaring internasional yang bisa kami manfaatkan untuk mengembangkan kurikulum dan metode literasi digital yang lebih baik.
Harapan saya ke depan sederhana namun ambisius. Saya ingin Cerdas.in tidak hanya berhenti sebagai komunitas lokal. Saya bermimpi model pendidikan inklusif yang kami presentasikan di Turki ini bisa diadopsi atau dikolaborasikan dengan lembaga-lembaga lain di Indonesia, bahkan dunia Islam. Saya ingin melihat generasi muda kita tidak lagi menjadi konsumen pasif teknologi, tetapi menjadi kreator yang cerdas, kritis, dan beretika.
Perjalanan ke Istanbul telah berakhir, tapi perjalanan Cerdas.in baru saja memasuki babak yang lebih seru. Bismillah, dari Makassar untuk peradaban dunia.