Manajemen Diri: Menerapkan Gaya Protokoler – BAKTI NUSA

Manajemen Diri: Menerapkan Gaya Protokoler

Manajemen Diri: Menerapkan Gaya Protokoler

Bagas Pratama (PM BAKTI NUSA 10 Regional Palembang)

Pernah tidak, kita rempong dan tenggelam dalam kesibukan diri sendiri? Rasanya, pasti sering ya, hehe. Apalagi bagi seorang aktivis kampus, soal manajemen waktu ialah yang selalu jadi sorotan, mencerminkan kualitas kepemimpinan pada diri sendiri. 

Sebab seringkali kita mendengar bahwa kita harus selesai dengan diri sendiri sebelum mengurusi ummat. Tapi kalau soal waktu saja kita masih sering ngaret, atau sering merasa gabut karena tidak ada yang bisa dikerjakan, sudah-sudahlah, haha. Kalau kita pada level kepemimpinan individu saja masih gagap, buang jauh deh ngomongin soal negara.

Artinya, dari sini kita mesti belajar: kepemimpinan diri sendiri itu penting. Paling tidak, kalau cara yang saya gunakan untuk memanajemen diri sendiri ialah dengan menerapkan gaya protokoler. Pasti sering tuh kan kalau berhadapan dengan pejabat, agenda protokolnya begitu ketat? Nah karena memang segala sesuatunya dijamin harus terlaksana sesuai jadwalnya.

Begitupun kita, pada level individu, mestinya mengambil pelajaran dari sana. Kadang sering terjebak pada kesibukan dibanding produktivitas. Bilang sana sini sedang sibuk, tidak bisa diganggu, tapi ternyata mengerjakan hal yang tak pernah tuntas, atau biasanya mengejar deadline. Itu kan hal yang tidak elegan dipandang dari seorang aktivis, hehe.

Kalau kita serius mau memimpin diri, paling tidak patuhlah pada dua hukum ini: Kalau merencanakan sesuatu, jadwalkanlah, kalau memerlukan sesuatu, anggarkanlah. Sesimpel itu sebenarnya, sudah bisa menampar kita, bahwa sebenarnya agenda kita kadang masih jauh dari produktif. 

Ya kalau kita misalnya merencanakan bulan ini hendak belajar skill baru, coba kita petakan berapa lama kita perlu belajarnya bergantung pada level kesulitan skill yang dipelajari. Baru kita petakan berapa hari yang dibutuhkan agar skill ini dikuasai, kalau tujuh hari, ya agendakan, setiap satu hari harus menyempatkan waktu berapa menit/jam untuk fokus belajar skill baru itu.

Atau dalam case sederhana saya, sering diajak ngopi atau jalan-jalan ke suatu tempat, Kalau orang tidak punya prioritas, biasanya jawabnya “gaskan, skuy, laju, ngalur, ngikut” seperti terbang tanpa tujuan, diajak kesana kesini oke. Beda hal kalau kita sudah keep jadwal, akan terlihat lebih elegan seperti protokoler betulan. 

Misalnya sore ini saya diajak ngopi tapi rupanya sudah terjadwal mau ngetik skripsi atau kerjaan-kerjaan lainnya, saya akan liat kalender dan menengok dalam rentang beberapa hari kedepan jam berapakah dan pada hari apa serta tanggal berapa yang masih kosong. “Oke, tanggal 5 jam 16.00 ya,” wah kan keren tuh. 

Bukannya kita sok sibuk, tapi memang itulah upaya kita memperbaiki diri, upgrade kedewasaan, karena kita semua yang membaca tulisan ini saya yakin sudah di atas 20 tahun ya, bukan waktunya lagi untuk bermain-main seperti anak kecil. Selain itu, sikap dan cara kita seperti itu adalah bentuk mensyukuri nikmat Allah berupa waktu 24 jam dalam sehari, lah kalau kita tenggelam dalam hal-hal yang sia-sia (atau bahkan maksiat) Astaghfirullah…Bukannya sebagai aktivis, kita mengejar ridho Allah ya kan?

Maka, bagi kita semua, termasuk pengingat kepada diri sendiri, sebelum mulut berbusa ngomongin negara, ayolah kita juga mulai serius memimpin dan memanajemen diri, menyelesaikan level kepemimpinan individu. Cukuplah di kampus kita sudah harus selesai dengan diri sendiri, baik hal-hal strategis ataupun teknis, baik dalam jangka tahun atau jangka setiap menitnya, sebelum kita semua sebentar lagi memikul beban yang lebih berat: kepemimpinan keluarga, berlanjut ke masyarakat dan negara. Selamat berbenah diri!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar