Makna Aliran Pemikiran Islam dalam ranah Kesejahteraan – BAKTI NUSA

Makna Aliran Pemikiran Islam dalam ranah Kesejahteraan

Makna Aliran Pemikiran Islam dalam ranah Kesejahteraan

Isu mengenai kesejahteraan sosial di Indonesia selalu ramai diperbincangkan hingga saat ini. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya keberagaman latar belakang masyarakat, baik dari etnis, agama, cara pandang politik, latar belakang pendidikan, dan sosial. Dari adanya hal tersebut menjadi sebab masyarakat indonesia menghadapi berbagai macam masalah kesejahteraan sosial.

Dalam satu dasawarsa terakhir, beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung silih berganti di negara kita. Serentetan peristiwa kerusuhan sosial (riots) itu telah menarik perhatian semua orang tentang apa yang terjadi di negara yang terkenal kedamaian dan keamanannya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi merupakan bagian dari a dinamic chance. Eskalasi konflik yang kian bertambah, berdampak pada berkembangnya konflik yang tidak hanya horizontal akan tetapi juga vertikal. Hal demikian menjadi pertanyaan besar bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia dalam mencari penyebab dari semua ini. Kerumitan dalam mengurai penyebab dan latar belakang adanya konflik yang seakan muncul dengan berurutan tanpa kenal waktu merbak di hampir semua tempat di tanah air. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menemukan formula jitu untuk mencari solusi dan obat penawar.

Adanya bentuk, jenis dan eskalasi konflik yang beragam, beragam pula faktor penyebab dan faktor pemantiknya. Adanya konflik di dalam masyarakat dapat disebabkan karena adanya faktor kepentingan, faktor sosial, faktor politik, pendidikan, kesehatan, faktor ekonomi, budaya, etnis, faktor agama dan ideologis. Hanya saja, faktor ekonomi dan politik sering dianggap sebagai faktor yang dominan di banding dengan dua faktor yang disebutkan terakhir. Hal tersebut terlihat dilapangan, bahwa konflik yang sering terjadi di lapangan kerap menggunakan pendekatan dan membawa simbol-simbol agama. seperti contoh adanya pembubaran pengajian yang dilakukan oleh salah satu ormas di Jawa Timur yang melarang Ustadz Felix Shiauw dalam mengisi Pengajian dan Seminar yang bertajuk Pendidikan berbasis Islam pada tahun 2018, lalu perusakan tempat peribadatan yang terjadi di daerah Surabaya yang terjadi secara bersamaan pada tanggal 13 bulan Mei 2018, penyerangan dan amuk masa yang terjadi dirumah ibadah seorang pastur di Sleman, Yogyakarta pada tanggal 11 februari 2018, atau bahkan pembunuhan terhadap penganut agama tertentu seperti peristiwa yang terjadi di Klenteng Kwan Tee Koen di Karawang pada tanggal 11 februari 2018 dengan menggunakan teror bom (sumber: kumparan.com).

Meskipun adanya hal demikian, tidak ada salahnya jika kemudian teramat penting konflik yang terjadi dikarenakan faktor etnis, agama dan ideologis bagi umat beragama untuk mengkaji, menemukan langkah dan cara dalam menyelesaikan masalah secara efektif bagi penghayatan, pengamalan dan kebebasan dalam menjalankan sebuah ibadah sekaligus meredeka dalam menjalankannya dan menyebarkan ajaran agama ditengah masyarakat indonesia yang plural ini. Dasar aliran atau golongan Agama islam yang dibagi menjadi berbagai golongan, ada sekurangnya 73 Golongan yang telah di sampaikan oleh ‘perawi’ atau ahli hadist (Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, I-Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafazh hadits di atas adalah lafazh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Kitabul Iman, 18-Bab Maa Jaa-a fiftiraaqi Haadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Kitab Tuhfatul Ahwadzi VII/397-398.) hadist tersebut berbunyi: Nabi Muhammad Sholalohu ‘alaihi wa Sallam. Nabi Muhammad Sholalohi ‘alaihi wa Sallam Bersabda: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.”

Selain hal di atas, ada beberapa alasan mengapa kemudian keberagaman pemahaman dan aktifitas beragama terasa sangat penting untuk di kaji dan di analisis. Dalam berbagai penelitian dan dalam argument baik yang disampaikan secara langsung atau di tulis didalam buku maupun didalam media sosial menunjukan apresiasi dan interkoneksi antara golongan dan faham dalam beragama saling melengkapi dan mendorong baik dalam urusan horizontal maupun dalam agenda vertikal. Hal tersebut berpeluang menjadi faktor pemersatu sosial dan juga berpeluang menjadi unsur kemanusiaan. Bagi dalam mereda konflik atau bahkan dapat menimbulkan adanya konflik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar