[Komentator Kemarin Sore]
Berita Palestina tak henti hentinya meramaikan jagad media. Namun, komentator sok paling berjuang itu yang menyuarakan tentang hal yang ‘paling laku dijual’ atau isu paling eksis dan katanya genting, entah karena tiba tiba atau uang yang menggoda, muncul dengan beragam dalih dan pembelaan, yang tak masuk akal.
” Ngapain urus palestina, urus negeri sendiri dulu.”
” Itu jelas beda akidah, beli senjata kok ke iran.”
” Bagi 50 50 aja wilayahnya, beres.”
” Coba dia ga nyerang duluan, pasti ga semakin banyak korban.”
Bersuara paling lantang paling depan.
Ada yang gagah perkasa bak para jagoan.
Ada yang merasa paling berjuang, paling paham, dan paling benar,
padahal, das sein, nir sama sekali.
Teringatlah saya pada umat pada masa Ibrahim prihal dalih dan pembelaan saat berdebat mengenai Tuhan. Dibantahnya seluruh argumen ‘receh’ itu oleh Ibrahim dengan sangat cerdas. Juga kisah tentang Abdullah bin Ubay, seorang munafik yang hidup di zaman Rasullullah. Padahal telah sampai kepada mereka cahaya kebenaran tapi mereka dengan sengaja mencampuradukkan antara yang benar dengan yang salah dan menutup diri dari kebenaran itu sendiri. Maka, secerdas apapun argumentasi kita, jika pintu hati telah ditutup, pun tak mempan.
Komentator atau pengamat yang seakan ‘paling paham’ itu kawan, pasti ada. Dan (mungkin) berlipatganda. Tak usah khawatir.
Konyolnya lagi kawan, masih ada dan banyak yang terlena dengan narasi semacam itu. Apalagi dengan narasi si zionis pesek. Not enter. Ra masyokkkk (Meminjam istilah Mas agus).
Kemunafikan itu terbungkus dengan rapi sedang kebenaran tak ubahnya seperti halusinasi.
Maka kawan, bersuaralah sebelum dipenuhi oleh komentator paling mengerti keadaan itu, lawanlah dengan akal. Jika belum mampu, sekadar meneruskan informasi juga turut memberi kontribusi pada pemenuhan gizi akal. Terus membaca dan membaca.
Selamat melawan, dunia ini bukan milik pengamat dan komentator yang sok paling berjuang.
Waktu itu di Teras rumah, 24 mei 2021.