Ketabahan : Ketika Potensi Saja Tidak Cukup – BAKTI NUSA

Ketabahan : Ketika Potensi Saja Tidak Cukup

Oleh: Mutia Aristawidya Paramesti (BA 9 Bandung)

Dalam dunia psikologi, mengukur kecerdasan seseorang lazim dilakukan untuk mengetahui bakat. Mungkin kita sudah tidak asing dengan psikotes untuk menilai kecerdasan seseorang melalui skor IQ (Intelligence Quotient). Namun ternyata, IQ dan hasil skor dari tes bakat bukanlah segalanya. Orang-orang yang sangat sukses rupanya tidak selalu memiliki potensi yang cemerlang, namun mereka menjalani hidupnya dengan tegar, bekerja keras, dan memiliki arah dalam setiap aktivitas yang dilakukan.

Angela Duckworth, professor psikologi di University of Pennsylvania, memaparkan hasil penelitiannya tentang kunci kesuksesan dalam buku bestseller Grit. Grit adalah karakter positif, ketika seseorang menggabungkan tingginya minat dan menjalaninya dengan tekun dan gigih hingga melahirkan suatu keahlian tertentu. Dalam buku ini, grit diterjemahkan secara bebas sebagai  ‘ketabahan’.

Berdasarkan skema di atas, kita dikatakan memiliki tingkat ketabahan yang tinggi bila mampu untuk bertahan dalam bidang yang ditekuni saat ini. Produktivitas kita juga tidak terhenti meski kita telah memiliki keahlian (skill). Untuk mencapai prestasi yang cemerlang, keahlian perlu diperkuat kembali dengan kegigihan. Konsep ini juga membuktikan bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu diiringi dengan hal-hal menyenangkan, namun ketika kita memiliki prinsip yang kuat, segala aktivitas akan terasa mudah untuk dijalankan.

Potensi kita adalah satu hal, namun yang kita lakukan dengan potensi kita adalah hal lain. Terkadang, bila kita meyakini diri bahwa kita dipenuhi dengan bakat alami, kita akan cenderung menghindari tantangan dan menganggap semua hal akan dilalui dengan mudah. Empat hal ini adalah tips praktis dari Duckworth untuk menumbuhkan ketabahan, dengan tambahan perspektif Islam untuk menyempurnakan.

Pertama, memiliki minat terhadap apa yang kita lakukan. Minat bermula dari menikmati apa yang dilakukan. Terkadang, kita memiliki banyak minat. Duckworth menyarankan, dari berbagai minat, pilih lima hal prioritas yang akan membawa kita menuju tujuan kesuksesan. Menjadi seseorang yang passionate atau penuh dengan minat bagi seorang muslim perlu dijalankan dalam kerangka kebaikan, untuk mensyukuri setiap potensi yang Allaah berikan kepada kita. Potensi tak selalu berbentuk bakat dalam diri, namun juga waktu, kesempatan, dan rezeki yang Allaah titipkan.

Selanjutnya, memiliki kapasitas untuk berlatih. Untuk menjadi tabah, kita perlu melawan rasa cepat berpuas diri. Allaah lebih menyukai amal yang sedikit namun kontinu (HR Muslim), maka tidak ada alasan bagi seorang muslim tidak berusaha. Seorang muslim dituntut untuk terus menempa diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hal ketiga, memiliki tujuan. Memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah penting menjadi dasar alasan seseorang untuk melakukan sesuatu. Ketabahan adalah tentang mempertahankan cita-cita tertinggi kita, untuk tujuan yang sama dan dalam jangka waktu yang panjang. Dalam hal ini, Islam memberikan panduan bahwa sejatinya tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allaah SWT dan menjadi khalifah di muka bumi.

Akhirnya, setiap orang perlu harus memiliki harapan. Harapan berarti memiliki kegigihan untuk bangkit meski mengalami kesulitan. Sudah seharusnya seorang muslim tidak cepat berputus asa dalam mengalami kegagalan, karena qada’ dan qadar yang melekat bukan untuk disesali, namun untuk membuat kita yakin bahwa apa yang ditetapkan adalah yang terbaik dari Allaah SWT.

Apakah tingkat ketabahan dapat bertumbuh? Tentu saja. Gen dan pengalaman dapat memengaruhi kesuksesan seseorang. Maka memperkaya pengalaman adalah hal yang harus dilakukan.  Keberanian untuk beradaptasi dibutuhkan, karena perubahan tidak dapat dimulai bila kita tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan. Karena pengalaman hidup dapat mengubah kepribadian seseorang, sehingga mampu melihat dari perspektif yang lebih luas.

Bagi seorang muslim, konsep ini akan sangat mudah dipahami dan diterapkan atas dasar iman kepada Allaah SWT serta meneladani Rasulullaah Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Sama halnya dengan perjuangan Rasulullah SAW dalam mendakwahkan Islam, dimulai dari turunnya wahyu hingga tersiarkannya Islam sampai saat ini. Ketika awalnya beliau dikatakan sebagai seorang ummi atau buta huruf, namun atas bimbingan Allaah melalui Malaikat Jibril, beliau dapat menyampaikan kalimullaah dan syiar Islam dengan sempurna, juga teladan kesempurnaan akhlak Rasulullaah yang masih relevan hingga kini. Banyak kisah umat muslim terbaik yang dapat kita teladani sebagai refleksi penerapan ketabahan. Ketabahan adalah karakter yang utuh yang perlu dimiliki setiap muslim, agar potensi kebaikan dapat diperkuat lebih besar lagi.

Sumber: GRIT, Kekuatan Passion dan Kegigihan oleh Angela Duckworth. Terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar