Kebohongan Publik dan Narasi Demi Rakyat (Melihat lebih luas mengenai kebijakan yang selalu membuat masyarakat bimbang dan ragu terhadap pemimpin-pemimpinnya) – BAKTI NUSA

Kebohongan Publik dan Narasi Demi Rakyat (Melihat lebih luas mengenai kebijakan yang selalu membuat masyarakat bimbang dan ragu terhadap pemimpin-pemimpinnya)

oleh Saiful Muhjab / BA 9/ Semarang

Persoalan kepemimpinan atau dalam hal ini pemimpin selalu menjadi bahasan yang hangat dan tidak bisa kita kesampingkan. Mekanisme yang mengatur peralihan kekuasaan selalu menunjukan dan melahirkan harapan baru mengenai pemimpin atau kepemimpinan yang akan dibuat kedepan. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa pemuda selalu identic dengan pemimpin, dan selalu identic dengan dia yang selalu menjadi pelaku sejarah, bukan penikmat apalagi hanya sebatas penonton sejarah. Sejarah di Republic ini pun telah membuktikan bahwa kesadaran serta optimisme kolektif selalu dibangun dan dipupuk oleh para pemimpinnya.

Di era Hak Asasi Manusia yang modern ini menuntut hak atas informasi yang harus diberikan secara terbuka dan transparan serta merata kepada setiap warga negara, dan ini memang menjadi tugas seorang pemimpin. Dalam wujud kesehariannya, pemberian hak atas informasi menjelma jelas dalam kehadiran kebebasan pers. Pers yang bebas dan bersifat idependen mengungkap serta menunjukan kepada public keadaan negara termasuk paket kebijakannya secara kasat mata.

Dominasi informasi yang mampu diakses setiap detik oleh masyarakat luas telah menunjukan kepada kita bahwa di era saat ini semua orang menjadi mata dalam menilai kebijakan yang dibuat oleh para pemimpinnya. Tentu kita memahami jikalau informasi yang berkualitas membangun masyarakat demokratis yang dewasa. Informasi di era sekaraang tidak akan pernah lekang dari pengawasan masyarakat itu sendiri dan sudah seharusnya para pemimpin dan pemerintahan secara keseluruhan menghindarkan diri dari panggung informasi yang bersifat semu atau hanya mengumbar kegenitan dalam membuat narasi informasi dalam membuat suatu kebijakan. Kita menyadari jikalau informasi yang sarat dengan kegenitan akan membuang waktu kita dan itu percuma, lebih-lebih informasi yang buruk dan menyesatkan menjadikan masyarakat kita yang gemar menyakiti dan menghancurkan diri sendiri (self-destructive) dan tentu menyakiti sesama seperti yang kita alami sekarang ini, terpolarisasi.

Mari kita masuk pada narasi kebohongan public yang selama ini dihembuskan dengan alasan kepentingan rakyat. Jikalau semua media informasi dikelola untuk menutupi keadaan yang sebenarnya, dengan dalih untuk menyelamatkan rakyat, padahal rakyat menunggu kepastian dan tentu berharap ada yang mampu mereka percaya di tengah gempuran informasi yang juga belum tentu kebenarannya, maka siapakah yang memproduksi kebohongan public itu? Dimana letak kebohongan publik di tengah banjir informasi yang tengah melanda kita? Di ujung spektrum yang satu, kebohongan kepada publik merupakan alternatif informasi untuk tujuan politik semata. Di ujung yang lain, kebohongan public diproduksi sebagai jawaban dari upaya memenuhi nilai komersil atau sebagai tuntutan pekerjaan dan muaranya adalah kepentingan atau urusan perut semata.

Tidak ada yang dirugikan, dan tidak ada yang tersinggung, begitulah narasi yang akhirnya didapati jikalau pejabat atau wakil rakyat memilih bergenit-genit dan membuat informasi semu dengan kebohongan seperti ini, dan pada gilirannya nanti wajar bila dia akan kehilangan konstituen serta kehillangan kepercayaan publik. Orang yang berhohong sesekali menimbulkan tawa. Orang yang kerap berbohong tanpa beban, mempertaruhkan kredibilitas dan integritasnya. Lebih parahnya jikalau yang berbohong adalah pemerintahan serta Lembaga negara itu sendiri, maka yang akan terjadi adalah rakyat tidak akan percaya kembali dan tentu akan merusak nilai demokrasi yang sebenarnya sedang di perjuangkan. Lebih jauh ketika kita menyadari perihal kebohongan public pada ujung spektrum yang lainnya, kebohongan publik bisa berakibat pelanggaran pasal-pasal pidana. Apalagi kalau kepentingan publik menjadi taruhannya. Dalam kaitan ini, kebohongan semacam ini patut menjadikan pelakunya diseret ke hadapan meja hijau. Tidak ada lagi keringanan untuk hal-hak yang berkaitan dengan public, dan semoga pemimpin serta negara memahami bahwa narasi kebohongan public yang di konsumsi terus-menerus akan merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang saat ini sedang di cita-citakan untuk berada pada narasi keberagaman. Pemimpin sepatutnya memegang dan memahami betul amanah kepemimpinan yang selama ini sudah diajarkan sedari kecil, bagaimana menjadi bertanggung jawab, berintegritas, jujur, berani menyampaikan, cerdas dan tentu lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, nilai-nilai inilah yang seharusnya di miliki oleh para pemimpin, dan tentu sudahi narasi kebohongan public dengan dalih alasan untuk kepentingan masyarakat atau rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar