KACA YANG TAK PERNAH RETAK Sebuah epicentrum perjalanan menjadi penerima manfaat bakti nusa Oleh Saiful Muhjab PM Bakti Nusa 9 Semarang – BAKTI NUSA

KACA YANG TAK PERNAH RETAK Sebuah epicentrum perjalanan menjadi penerima manfaat bakti nusa Oleh Saiful Muhjab PM Bakti Nusa 9 Semarang

“Perjuangan adalah ketika keringat, air mata dan doa menyatu…. (anonymous)”

 

 

Pernah bermimpi lalu mimpi itu mempertemukanmu dengan kenyataan yang mungkin tak sesuai dengannya atau malah sesuai kemudian melebihi batas mimpimu sebelumnya?

 

Aku pernah. Aku merefleksikan apa yang pernah menjadi mimpiku dahulu, menjadi lantunan doa yang dipanjatkan halus seusai sholat atau bahkan ketika sholatpun tak luput aku haturkan.

Aku mencoba mengingat kembali, menggali lebih dalam mimpi-mimpi ketika dahulu sempat dan akan terus menjadi pelecut semangat dalam diri.

Ya, inspirasi ini aku dapati dari tulisan seseorang yang kembali mengingatkanku akan harapan-harapan yang dipanjatkan dengan doa yang tulus akan menghasilkan sesuatu yang sungguh diluar nalar serta logika kita.

 

Aku akan bercerita tentang dulu, tepatnya lima tahun lalu ketika awal menjadi siswa kelas XI di salah satu SMA favorit di Majenang, Cilacap (sampai saat ini aku masih berstatus mahasiswa, tentunya kamu bisa menebak kira-kira sekarang aku mahasiswa semester berapa hehe), banyak hal yang ingin aku capai ketika saat itu. Aku masih ingat, aku gunakan kertas bekas kalender yang dibalik dan aku tulis dengan spidol bekas yang ada di lemari depan televisi.

 

“Bismillah bisa kuliah kalau nggak di Yogyakarta di Semarang, lulus kuliah3,5 tahun dengan IPK cumlaude, bisa jadi pemain sepakbola profesional, masuk 10 besar paralel di kelas XII. Amiinn Insyaallah”

 

 

Tidak hanya rencana itu yang aku punya. Aku juga menuliskan aku ingin ke luar Jawa, ingin berpergian keluar kota dan menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Begitulah kira-kira kalimat harapan sekaligus doa yang aku tuliskan pada kertas manila putih. Tidak lupa setelah selesai menukiskan kalimat-kalimat itu, aku bubuhi tanda tangan yang disandingkan dengan angka kelahiranku ya 20.

 

 

Rencana serta harapan tinggalah harapan, tapi keyakinan akan adanya Allah yang siap mengabulkan setiap permohonan dan doa hamba-nya tentu menjadi keyakinan yang terus dikobarkan didalam hati ini. Hingga sampai pada kata dimana Allah teramat baik dengan segala skenario Nya yang terbaik, yang sesuai dengan hambanya melebihi akal dan logika hambanya sendiri. Perubahan demi perubahan tentu akan kita dapati, sebab itulah proses kehidupan yang akan mendewasakan kita.

 

Baiklah. Ini dia ceritaku atau mungkin kisah yang ditulis ketika aku mengingat kembali perjuangan dan jejak langkah kehidupanku dahulu kala. Yang saat ini masih berjuang dengan teatle mahasiswa Bimbingan Konseling yang mempertemukan diriku dengan masa lalu serta kenyataan masa kini. Selamat menikmati sepercik kisah sore hari ini.

 

 

Hari itu seperti biasa selepas menunaikan ibadah sholat maghrib aku melanjutkan untuk membaca al-qur’an, sementara Ayah dan Ibu kembali melanjutkan perbincangannya yang tadi terpotong oleh sholat maghrib. Di dalam kamar, aku mencoba untuk menerka-nerka apa sebenarnya yang sedang mereka perbincangkan dengan serius, walaupun sambil membaca al-qur’an tetapi pembicaraan mereka cukup terdengar meski, tidak begitu jelas.

Aku masih ingat betul kejadian itu sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu, dimana perekonomian keluarga kami sedang tidak baik, ayah baru saja sembuh dari sakitnya, sementara aku masih ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.  Beberapa hari sebelumumnya aku pernah melihat sebuah tayangan televisi yang mengangkat nama tokoh-tokoh terkenal dan bagaimana latar belakang mereka dahulunya. Dan ternyata aku tertarik pada salah satu tokoh pesepak bola asal Jepang yaitu “Kagawa”.

Selain karena saya hobi bermain sepak bola ,ternyata kehidupan Kagawa kecil tidak terlalu jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak di desa, sementara bagaimana dia bisa sukses menjadi pesepak bola professional yang bisa membela klub terkaya di Inggris yaitu Manchester United beberapa musim yang lalu. Ternyata Kagawa membeberkan rahasianya bahwa yang membuat dia bisa menjadi seperti itu ,salah satunya adalah dia selalu menuliskan apa yang menjadi keinginannya dan menaruh tulisannya di jendela kamar.

Melihat tayangan itu aku mulai berimajinasi ,kenapa aku tidak mengikuti jejak seorang “Kagawa”. Pada hari esoknya aku mulai menuliskan cita-citaku pada sebuah buku gambar yang masih utuh, sebelum akhirnya aku pindahkan pada kertas bekas kalender yang di balik. Aku mulai menuliskan beberapa keeinginan serta harapanku, mulai bermain dengan imajinasi dan impianku. Untuk beberapa saat aku mulai merasakan perubahan dalam diriku, bahwa aku akan mampu untuk mewujudkan apa-apa yang menjadi cita-citaku pada saat itu.

Mengingat aku menulis itu semua di waktu malam dan esok harus sekolah , akhirnya aku menyudahi permainan imajinasi ku terhadap diri sendiri. Ternyata apa yang menjadi perbincangan kedua orang tuaku adalah salah satunya mengenai tulisan yang aku buat . Mereka membaca tulisan yang aku buat itu dan aku lupa ternyata tulisan itu masih berada di atas meja ruang tamu.

Masih selepas sholat maghrib di hari itu, aku melirihkan bacaan Al-qur’an dan kembali menerka pembicaraan yang cukup serius. Hatiku merasa tak kuat ketika mereka, orang yang sangat aku sayangi dan banggakan mulai berbicara mengenai masa depanku.

 

“Apa mungkin kita mampu menyekolahkan dan mampu mewujudkan cita-cita anak kita?” tutur Ayahku.

Di balik kamar tak terasa aku mulai meneteskan air mata, membayangkan bagaimana perjuangan mereka dalam menyekolahkanku dan adik. Aku merasa apa yang aku tuliskan di selembar kertas itu menjadi saksi bisu bagaimana ketika do’a orang tua di ijabah oleh Allah Subahanahuwata`alla. Bagaimana keikhlasan dan kerja keras mereka diaminkan oleh malaikat-malaikat Allah. Tidak hanya itu, bagaimana banyak jalan yang tidak mampu di ukur dengan kekuatan logika untuk mampu menghantarkan anaknya ke ruang kesuksesan dunia.

Aku masih berlinang air mata mendengarkan percakapan mereka, akan tetapi aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku akan membuat mereka bangga dan akan membuktikan apa yang telah aku tulis di selembar kertas itu. Aku ingat dalam tulisan itu salah satunya aku ingin masuk tiga besar di kelas ketika saya SMA nanti, dan 10 besar paralel nanti. Namun lebih dari apa yang saya harapkan, saya masuk sepuluh besar paralel di SMA. Alhamdulillah itu semua terwujud. Hal lain yang membuat aku bahagia adalah ketika kedua orang yang aku banggakan itu tersenyum kepada saya, memeluk kemudian berkata pada saya.

 

“Insyaallah kamu sukses. Aamiin ya Allah ya Raball’alamiin,” doa mereka untuk saya.

Banyak hal yang ketika aku tuliskan menjadi kenyataan dan satu persatu menjadi lembaran nyata sebuah kehidupan.

 

Perjalanan panjang itu terus menemui muaranya, pembelajaran yang selalu diberikan oleh Ayah mengajarkanku apa artinya berjuang dan bekerja keras, jangan pernah mengenal kata keluhan atau bahkan menyerah. Menjadi aku yang sekarang tentu bukan tanpa alasan, justru karena banyaknya alasan yang telah membentuk karakter serta pribadiku yang sekaranglah aku mampu menjadi diriku sendiri. Terbiasa bekerja keras membuatku mandiri sedari kecil, bahkan pada saat ini dari awal masuk kuliah sampai detik ini aku tak pernah meminta uang dari orang tua, justru aku berusaha sebisa mungkin aku harus mengirim ke orang tua. Yang aku minta dari kedua orang tuaku hanyalah minta doa restunya supaya sehat selalu dan sukses dunia akhiratnya.

 

Alhamdullilah, kalimat ini selalu terucap sebab perjalanan panjang itu kini perlahan mulai mencapai muaranya, meski aku pastikan bahwa masih banyak hal yang akan dan harus aku capai. Perjalan menjadi penerima manfaat bakti nusa 9 ini menjadi salah satu perjalanan yang akan masuk pada lembar sejarah seorang Saiful Muhjab. Bahwa melalui bakti nusa sera dompet dhuafa secara khususnya telah menjadikan aku seoonggok manusia yang memiliki tanggung jawab serta amanah luar biasa untuk kembali menghadirkan dan mengupayakan diri untuk melayani umat. Aku bukan aku jikalau tak bisa bermanfaat untuk banyak orang. Dan sudah selayaknya apapun yang aku miliki harus memiliki dampak yang positif bagi umat. Perjalanan menjadi PM Bakti Nusa ini tentunya memiliki kesan tersendiri sebab aku yakin ternyaa Allah SWT membukakan jalanNya yang secara logika tak mungkin akan sampai. Berawal dari info kaka tangkat di salah satu grup kemudian berlanjut dengan sharing dan diskusi membuat diriku yakin untuk mengikuti alur seleksinya. Tahapan demi tahapan aku ikuti meski ketika ada persyaratan test toefl aku menjadi ragu sebab waktunya tersisa sedikit dan aku belum pernah ikut tes toefl, tapi Alhamdullilah Allah permudahkan aku dengan bisa mengikuti test toefl di unnes yang diawal daftar sudah penuh dan secara logika tak bisa test di unnes. Tahap selanjutnya ketika wawancara dan akhirnya dinyatakan lolos pula ke tahap uji public membuat aku semakin yakin bahwa aku mampu menjadi bagian PM Bakti Nusa 9 regional Semarang, uji public merupakan ajang pembuktian bahwa aku layak menjadi bagaian bakti nusa, meski sesi ini menjadi sesi yang sangat menentukan dan tentunya menjadi ajang yang begitu menegangkan, tapi dinamika di sesi ini alhamdulillah bisa diatasi dengan baik. Dan selanjutnya sesi pengumuman menjadi sesi yang ditunggu-tunggu, sampai akhirnya Alhamdullilah aku menjadi bagian PM Bakti Nusa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, sejak saat itu kontribusi harus menjadi maksimal, keikhlasan harus lebih ttinggi dan niat baik untuk umatt harus terus menjadi prioritas utama dalam berjuang.

 

Sampai pada akhirnya aku harus mengakui bahwa berbagai macam pengalaman hidup yang telah aku alami menjadikan pribadi ini selalu mencoba untuk bersyukur dan terus berbenah sampai pada masanya tiba bahwa memang kita akan kembali kehadapan-Nya. Yang selalu aku yakini bahwa doa-doa orang tualah yang telah membuatku seperti sekarang ini. Perjuangan serta pengorbanan mereka tak akan pernah bisa aku balas, tapi semoga doa terbaiku akan senantiasa menjadi sekecil-kecilnya usaha untuk membahagiakan mereka. Aamiinn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar