Isu Kemiskinan, Apa Peran Kesehatan Masyarakat? – BAKTI NUSA

Isu Kemiskinan, Apa Peran Kesehatan Masyarakat?

Pada Strategic Leadership Training akhir Juli lalu, terdapat materi tentang Daras Kemiskinan-bagaimana kemiskinan dipandang dari berbagai dimensi. Dijelaskan tentang lingkaran setan yang dihadapi oleh orang miskin: pendidikan rendah, ketidakberdayaan mengendalikan status ekonomi, kondisi sakit, pengaruh budaya, lemah iman/taqwa. Untuk akhirnya dapat keluar dari lingkaran setan ini, orang miskin perlu mendapatkan intervensi eksternal, yaitu dengan bantuan orang yang memiliki kemampuan, tidak bisa hanya dengan usaha mereka sendiri.

Pertanyaan yang kemudian muncul di kepala saya sebagai calon ahli kesehatan masyarakat adalah, “bagaimana peran kesehatan dalam memberantas kemiskinan?”. Nyatanya, faktor utama yang dapat memberantas kemiskinan adalah peningkatan pendidikan dan kemampuan dalam ekonomi di masyarakat. Kesehatan, adalah faktor pemungkin seseorang melakukan aktivitas secara produktif. Yang menjadi perhatian setidaknya adalah “bagaimana caranya agar orang miskin tidak jatuh sakit”, agar mereka bisa terus bekerja dan meningkatkan taraf hidupnya.

Perlu kita pahami, bahwa kebutuhan atas pelayanan kesehatan tidak dapat dihapuskan. Jika menggunakan prinsip pareto, dapat dikatakan 20% populasi merupakan orang yang sakit, dan 80%-nya itu tidak sakit. Yang sakit menjadi urusan kuratif (penyembuhan), sedangkan sisa 80% ini yang harus dicegah dari penyakit dan ditingkatkan derajat kesehatannya, menjadi urusan Ahli Kesehatan Masyarakat.

Kita perlu melakukan sesuatu yang signifikan dampaknya, setidaknya pada skup yang kecil/lokal. Keberhasilan kesehatan masyarakat tidak mungkin dimunculkan secara masif langsung dalam satu negara, namun harus muncul sedikit demi sedikit, berhasil dari satu wilayah ke wilayah lain, dan terus menyebar hingga mencapai wilayah yang luas dengan best practice yang disebarkan. Tantangannya adalah, harus ada “penggerak kesehatan masyarakat” yang secara nyata mampu menggerakkan tiap wilayahnya untuk memiliki budaya hidup sehat, mengetahui caranya untuk sehat meskipun dengan ongkos yang sedikit, dan juga tahu bagaimana cara mendapatkan akses kesehatan sesuai dengan kemampuan, tanpa menghilangkan kualitas.

Rasa-rasanya tidak akan cukup apabila tenaga kesehatan masyarakat yang diandalkan untuk menjadi penggerak kesehatan di masyarakat. Semua orang sebetulnya mampu untuk hidup sehat, selama dia tahu dan mau menerapkan ilmunya. Pun, semua orang bisa menjadi penggerak kesehatan di masyarakat. Sesederhana menjadi kader posyandu yang mengukur tinggi dan berat badan balita pun sudah merupakan penggerak kesehatan masyarakat. Jika kita butuh baaanyak orang untuk menggerakkan masyarakat untuk hidup sehat, mau kah kamu menjadi salah satunya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar