Gawat Darurat Pendidikan Indonesia – BAKTI NUSA

Gawat Darurat Pendidikan Indonesia

Gawat Darurat Pendidikan Indonesia

Tak terasa, kini sudah 73 tahun Indonesia merdeka. Sayangnya, saat ini kondisi pendidikan Indonesia sudah sangat gawat!

Lant Pritchett, seorang profesor di Universitas Harvard, melakukan penelitian mengenai pendidikan dan mengatakan bahwa Indonesia butuh 128 tahun untuk bisa sejajar dengan rata-rata negara berkembang dan maju dalam sistem pendidikan. Itu baru sejajar dengan rata-ratanya saja.

Persoalannya, masalah-masalah pendidikan sudah dianggap sebagai sebuah kelaziman.

Salah satu cita-cita luhur kemerdekaan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, seolah masih jauh dari kata ideal. Masih banyak permasalahan pendidikan yang menyelimuti Indonesia hingga kini.

 

Problematika Kualitas Pendidikan Indonesia

Pada pemetaan kualitas pendidikan, Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara Menurut lembaga The Learning CurveTerpuruknya posisi Indonesia dalam pemetaan kualitas pendidikan tercermin dari kondisi kualitas pendidikan Indonesia yang masih rendah dan jauh tertinggal dari negara-negara lain. Tentu, hal ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan, melihat kualitas pendidikan akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.

Rendahnya kualitas pendidikan Indonesia disebabkan oleh beberapa penyebab, diantaranya adalah tidak efektifnya pelaksanaan pendidikan, efisiensi pengajaran yang belum terpenuhi (mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan, mutu pengajaran, dll), serta standarisasi pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan .

 

Problematika Pemerataan Pendidikan Indonesia

Pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN. Anggaran pendidikan direncanakan sebesar Rp. 487,9 Triliun, jumlah yang sangat besar. Tetapi berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2016, ada sekitar 4,3 juta anak yang tak mengenyam pendidikan dasar sembilan tahun. Masih ada masyarakat yang tidak bisa merasakan pendidikan akibat keterbatasan ekonomi. Selain itu, berdasarkan pemetaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 75% sekolah di Indonesia tidak layak. Banyak sekali sekolah atau lembaga penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan, baik dari sisi infrastruktur ataupun sarana dan prasarana. Padahal, hal tersebut akan mempengaruhi proses penyeleggaraan pendidikan.

 

Problematika Praktik Pendidikan Indonesia

  • Sistem dan Kurikulum Pendidikan yang Bermasalah dan Berubah-Ubah

Sejak tahun 1947, Indonesia telah mengganti kurikulum pendidikannya sebanyak 9 kali. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan oleh pemerintah untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar tujuan pendidikan yang diharapkan dapat tercapai. Namun, perubahan-perubahan kurikulum tersebut terkesan belum begitu matang dan terkesan labil. Kurikulum di Indonesia masih bersifat kompleks. Pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat.

  • Kekerasan dalam Dunia Pendidikan Indonesia

Lingkungan sekolah di Indonesia belum ramah bagi peserta didik. Hal itu terlihat dari maraknya kasus kekerasan di sekolah, baik fisik maupun bukan fisik. Penganiayaan guru terhadap siswa, siswa terhadap guru, sesama siswa (Bullying), pelecehan seksual, dan tawuran antarsekolah mewarnai dunia pendidikan Indonesia.

 

Problematika Guru Indonesia

  • Kualitas Guru Indonesia Masih Rendah

Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) beberapa tahun terakhir menunjukkan kompetensi guru di Indonesia rendah dan dibawah rata-rata. Pada tahun 2015, rata-rata nasional hasil UKG bidang pedagogik dan professional adalah 53,02 dari standar yang diharapan yaitu 70. Jika kualitas guru Indonesia masih rendah, maka peningkatan kualitas pendidikan dan kemajuan suatu bangsa akan buruk karena guru merupakan factor kunci dalam hal tersebut.

  • Kesejahteraan Guru Indonesia Sangat Memprihatinkan

Kesejahteraan para guru, terutama guru honorer masih jauh dari yang diharapkan. Guru honorer mendapatkan upah yang tidak layak sebagai tenaga pengajar. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pun terkadang sulit dan tidak cukup. Bahkan, upah dari buruh lebih tinggi daripada upah para guru di Indonesia.

 

Potret buruk pendidikan hari ini, apapun sebabnya adalah tanggung jawab kita semua. Kini saatnya mengubah cara pandang. Mari kita membuka mata dan hati kita, untuk ikut serta berkontribusi memperbaiki pendidikan di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar