Filosofi Debat: Antara Progresif dan Etika – BAKTI NUSA

Filosofi Debat: Antara Progresif dan Etika

Tren demokrasi dan media sosial yang meningkat, sudah membawa kita ke proses rekonstruksi kebenaran baru. Saat ini, masyarakat dapat membangun wacana publik online dengan mudah untuk bertukar pandangan mereka dan kemudian mempengaruhi opini publik. Atas dasar kebebasan berpendapat, masyarakat memiliki kekuatan khusus untuk mengubah status quo berdasarkan pada agregasi kepentingan. Di Indonesia misalnya, media sosial seperti facebook, twitter, dan banyak messenger lain digunakan oleh masyarakat untuk melawan Revisi UU yang berujung pada protes nasional.

Di Indonesia, salah satu komponen masyarakat yang secara intensif terlibat dalam proses ini adalah kaum muda. Tidak heran, karena mayoritas pengguna media sosial di wilayah adalah kaum muda. Dengan kondisi ini, pemuda dan media sosial harusnya menjadi kolaborasi yang sempurna untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang mendukung kepentingan publik.Namun, kenyataannya mengatakan sesuatu yang berbeda. Meskipun pemuda memiliki banyak pengguna media sosial, diskusi di media sosial tidak benar-benar sehat. Banyak pengguna menggunakan kebebasan berbicara untuk menyebarkan kefanatikan, kebencian, atau bahkan pandangan politik yang tidak berlandasan. Di sisi lain, masyarakat yang tidak memiliki pemikiran kritis yang baik sering kali dengan mudah terprovokasi.

Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan kesadaran tentang bagaimana melakukan debat publik, untuk mendapatkan manfaat darinya. Adalah benar, bahwa masyarakat selalu memiliki cara pandang tersendiri tentang kebenaran dalam ruang publik. Akan tetapi, tulisan ini dimaksudkan untuk dapat memperbaiki diskursus debat yang pada trennya justru memecah masyarakat. Adapun  cara yang dapat dilakukan dalam mencapai tujuan diatas adalah menumbuhkan pemahaman tentang filosofi debat di kalangan anak muda. Karena meskipun hari ini kita memiliki banyak perdebatan tentang apa saja dan di mana saja, menurut hemat penulis, kita tidak benar-benar memahami esensi dari perdebatan.

Inti dari debat sebenarnya adalah pertarungan ide tentang bagaimana menyelesaikan masalah dengan paling efisien dan efektif. Dengan definisi ini, kita tidak akan membahas pemikiran emosional terhadap orang lain, melainkan masalahnya. Dalam sebuah diskusi , kita memiliki tujuan yang sama di mana kami ingin menyelesaikan masalah bersama. Lebih jauh lagi, pemuda harus berbagi nilai yaitu ketika kita memiliki pendapat, kita perlu berdebat dan menjelaskannya secara rasional tanpa menyinggung komunitas tertentu. Sebagai tanggapan, mereka yang berbeda pendapat juga perlu menjelaskan argumentasi tandingan yang membahas ide-ide sebelumnya. Diskusi seperti ini tentu membuat generasi dialektika yang kritis dan penyelesaian masalah. Sebagai hasilnya, debat akan mendapatkan beberapa manfaat yang berdampak pada pemberdayaan pemuda itu sendiri dan kehidupan masyarakat.

Selain pemahaman tentang filosofi debat, anak muda juga harus memiliki kode etik dalam berdebat. Kode etik dalam konteks ini berarti niat kita untuk melakukan debat. Sebagai pendebat, kita tidak boleh memiliki motivasi untuk berdebat tentang sesuatu hanya karena kita ingin membuat mendapatkan kontroversial, popularitas, penghargaan, atau uang dari pihak tertentu. Kejujuran dan idealisme dalam berdebat harus dijaga karena debat tidak hanya menyangkut kepentingan individu, tetapi bukan bermanfaat bagi kemanusiaan. Berbekal filosofi yang benar, harapannya adalah pertemuan berbagai elemen khususnya pemuda dalam permbahasan apapun (termasuk RUU) dapat meraih tujuan kemanuiaan ini. Ya, semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar