Merdeka! Kata yang seringkali kita dengar sebagai warga negara setiap 17 agustus. Sudah 79 kali kata itu digaungkan dengan simbol suka cita. Kemerdekaan yang berarti setiap kita akan memiliki kebebasan, kesetaraan, dan hak yang sama sebagai warga negara dalam bidang apapun itu. Khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup sejahtera. Namun, tulisan ini akan menyelami lebih jauh makna kemerdekaan di mata saudara-saudara kita nan jauh disana, di tempat yang bahkan tidak terjamah listrik, air, pendidikan, internet, dan simbol-simbol kemerdakaan lainnya. Lantas bagaimana kondisi “kemerdekaan” disana?
Biarkan Benteng Dewa, sebuah desa di ujung barat daya pulau flores Nusa Tenggara Timur yang akan menjawabnya. Desa ini merupakan desa yang termasuk daerah 3T (Tertinggal, terdepan, terluar). Gerbang desa ini tidak semegah gerbang desa-desa lain di pulau jawa, melainkan sebuah tambatan perahu sederhana untuk menyeberangi sungai sebagai akses keluar masuk desa. Kondisi jalan yang berbatu setia menemani hingga ujung perjalanan. Warga di desa ini tidak mengandalkan listrik PLN, melainkan generator berbahan bakar solar yang hanya mampu bertahan 4 jam sebatas agar cukup mengisi baterai ponsel dan keperluan alat listrik sederhana lainnya. Setelah generator mati, hanya gelap yang tersisa.
Setiap paginya, ibu-ibu mengantri di depan keran air membawa jeligen-jeligen kosong. Berharap masih mendapat tetes-tetes air yang mengalir kecil untuk keperluan memasak. Anak-anak berjalan kaki menuju sekolah menempuh waktu setengah sampai 1 jam, banyak pula yang terlambat karena jarak rumah yang jauh. Sayangnya sesampainya di sekolah mereka masih harus berdiri. Bukan karena terlambat, namun memang karena tidak terdapat kursi untuk belajar.
Entah mengapa berada di desa ini seakan masuk ke dimensi yang lain, kehidupan berjalan lebih lambat, tanpa listrik, tanpa air, tanpa sinyal, tanpa aspal, tanpa meja dan kursi sekolah. Nyaris seperti tanpa kemerdekaan. Lantas pertanyaannya, apakah Kemerdekaan hanya untuk pulau jawa saja? Hendaknya kita sebagai warga negara bisa merenungi hal ini bersama-sama.