Dari Timur, Kami Masih Menunggu Makna Merdeka yang Sebenarnya

Ketika kita berbicara tentang merdeka, banyak orang langsung membayangkan kemerdekaan dari penjajahan, berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat, atau menikmati kebebasan dalam menentukan jalan hidup. Namun, bagi saya yang tumbuh dan berproses di Timur, makna merdeka jauh lebih kompleks. Pertanyaan yang selalu menghantui saya adalah: apakah semua orang, di seluruh pelosok negeri ini, benar-benar merasakan arti merdeka yang sama?

Pengalaman saya di sebuah komunitas pendidikan di Kabupaten Maros membuka mata saya lebar-lebar. Kami datang dengan semangat ingin berbagi pengetahuan dan mendampingi anak-anak di sana. Namun, apa yang saya temukan justru menyisakan rasa getir. Untuk bisa sampai ke sekolah terdekat, anak-anak harus berjalan kaki selama hampir dua jam. Bayangkan, dua jam perjalanan menembus jalan tanah yang licin saat hujan, menyeberangi pematang sawah, atau menapaki jalur berbatu yang menanjak. Semua itu mereka tempuh setiap hari hanya untuk duduk di ruang kelas sederhana yang jauh dari fasilitas yang kita kenal di kota besar.

Kondisi ini kontras dengan kenyataan di pusat Kota Makassar, yang hanya berjarak sekitar satu jam dari Maros. Di Makassar, sekolah-sekolah berjejer lengkap dengan gedung modern, akses teknologi, hingga fasilitas pendukung yang memadai. Anak-anak bisa pergi ke sekolah dengan motor, transportasi umum, atau bahkan diantar dengan mobil orang tua. Sementara itu, di pelosok Maros, kemerdekaan untuk mengenyam pendidikan masih harus diperjuangkan dengan keringat dan langkah kaki kecil yang penuh harapan.

Momen ini membuat saya merenung: apakah merdeka hanya berarti kebebasan formal yang kita rayakan setiap 17 Agustus? Ataukah merdeka seharusnya berarti hadirnya kesempatan yang sama bagi setiap anak Indonesia, di mana pun mereka lahir dan tumbuh? Saya percaya bahwa merdeka bukan hanya tentang terbebas dari belenggu penjajahan, tetapi juga tentang terbebas dari belenggu ketimpangan.

Selama ketidakadilan sosial masih nyata, selama anak-anak di Maros harus berjalan dua jam hanya untuk bersekolah, dan selama saudara-saudara kita di pelosok harus berjuang lebih keras untuk hal-hal yang dianggap biasa di kota besar, maka makna merdeka yang sebenarnya masih belum sepenuhnya kita raih.

Merdeka seharusnya hadir dalam bentuk akses pendidikan yang merata, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, serta pembangunan yang tidak hanya berpusat di kota, tetapi juga menyentuh desa-desa yang selama ini terpinggirkan. Dari Maros, dari Timur, kami masih menunggu kehadiran makna merdeka itu sebuah kemerdekaan yang bukan hanya dirayakan, tetapi juga dirasakan oleh setiap anak bangsa.