Cerdas.in: Merajut Asa, Meretas Batas
Keresahan seringkali menjadi titik awal dari sebuah perjalanan. Bagi saya, keresahan itu lahir dari sebuah paradoks yang saya saksikan setiap hari di kota saya, Makassar. Di satu sisi, saya melihat anak-anak dan remaja yang begitu fasih menggeser layar gawai, terhubung dengan dunia dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, saya melihat kekosongan akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan pemahaman kritis terhadap dunia digital yang mereka selami. Potensi besar generasi penerus seolah terperangkap di antara derasnya arus informasi dan dangkalnya literasi. Mereka memiliki alatnya, namun belum sepenuhnya memiliki petanya. Kesenjangan inilah yang terasa begitu mendesak untuk dijembatani.
Dari keresahan itulah, pada tanggal 12 November 2024, sebuah gagasan sederhana bertransformasi menjadi sebuah gerakan. Lahirlah Cerdas.in, sebuah proyek kepemimpinan yang saya inisiasi bersama rekan-rekan sevisi. Nama ini bukan sekadar komunitas, melainkan sebuah harapan dan tujuan: untuk menjadi bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dimulai dari komunitas terkecil di sekitar kami. Kami tidak ingin hanya menjadi penonton pasif. Kami ingin menjadi agen aktif yang meretas batas-batas pendidikan melalui aksi nyata. Dengan pilar-pilar inisiatif awal seperti Cinta Buku, Edukasi Digital, Ruang Baca, Donasi Buku, Aksi Membaca, dan Seminar, kami memulai langkah pertama untuk merajut asa yang sempat tercecer.
Gambar 1. Seminar UTBK Nasional
Perjalanan ini langsung diuji dengan tantangan nyata. Salah satu program perdana kami adalah Seminar Nasional UTBK. Kami melihat ribuan siswa SMA dilanda kecemasan menghadapi gerbang perguruan tinggi. Seminar ini kami rancang bukan sekadar sebagai ajang berbagi tips dan trik, melainkan sebagai sebuah jembatan penenang yang memberikan mereka strategi dan kepercayaan diri. Mengelola acara berskala nasional dengan sumber daya yang terbatas mengajarkan saya pelajaran pertama tentang kepemimpinan.
Gambar 2. Ramadhan Ceria bersama Kaum Dhuafa
Namun, Cerdas.in tidak hanya bergerak di ranah akademis. Hati kami terpanggil untuk menyentuh sisi kemanusiaan yang lebih dalam. Melalui program “Ramadhan Ceria bersama Kaum Dhuafa,” kami berbagi kebahagiaan dengan anak-anak panti asuhan dan para pengemudi ojek online. Di momen inilah saya menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mencapai target, tetapi juga tentang merasakan dan meringankan beban sesama. Program ini memperkuat fondasi empati dalam komunitas kami, mengingatkan bahwa kecerdasan sejati adalah yang diimbangi dengan kepekaan sosial.
Gambar 3. Belajar Bersama Cerdas.in & Bootcamp
Seiring berjalannya waktu, kami terus menghidupkan ruang-ruang intelektual melalui “Belajar Bersama Cerdas.in” dan “Forum Diskusi” rutin. Program-program ini menjadi wadah bagi para anggota untuk bertukar pikiran, mengasah kemampuan analisis, dan memperluas wawasan. Di sinilah saya belajar bahwa seorang pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling tahu segalanya. Tugas terpenting seorang pemimpin adalah menciptakan panggung di mana setiap orang merasa aman dan terdorong untuk bersuara, berdebat, dan bertumbuh bersama.
Gambar 4. Forum Diskusi & Kelas Bahasa
Saya segera menyadari bahwa kekuatan sebuah komunitas terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Sebuah mesin penggerak hanya akan berjalan optimal jika setiap komponen di dalamnya dirawat dan dikembangkan. Atas dasar pemikiran ini, kami meluncurkan dua program internal yang menjadi investasi jangka panjang bagi Cerdas.in: Kelas Bahasa Internal dan Bootcamp Internal. Ini bukan sekadar “benefit” bagi anggota, melainkan sebuah strategi kepemimpinan. Saya percaya, untuk bisa melayani masyarakat dengan baik, kami harus terlebih dahulu melayani tim kami sendiri.
Mengelola program internal ini memberikan saya pelajaran kepemimpinan yang paling berharga. Memimpin relawan adalah seni menjaga api semangat tetap menyala tanpa imbalan finansial. Tantangannya adalah menyatukan beragam individu dengan latar belakang dan komitmen yang berbeda, serta memastikan setiap orang merasa memiliki dan dihargai. Di sinilah saya belajar untuk menjadi pendengar yang lebih baik, menjadi fasilitator dan memberikan kepercayaan penuh kepada tim untuk mengambil inisiatif. Bootcamp dan kelas bahasa menjadi ruang bagi kami untuk tidak hanya belajar keterampilan baru, tetapi juga untuk mempererat ikatan dan membangun fondasi tim yang solid.
Kini, dengan fondasi tim yang lebih kuat dan pemahaman yang lebih matang, Cerdas.in siap melangkah ke jenjang berikutnya. Kami tidak ingin berhenti pada apa yang sudah ada. Beberapa program besar telah menanti di depan mata: Pelatihan Kepenulisan Ilmiah untuk mengasah kemampuan literasi tulis, Silent Reading untuk mengkampanyekan kembali nikmatnya membaca dalam keheningan, serta Workshop & Lomba Desain Grafis bertema pendidikan untuk menyalurkan kreativitas digital secara positif. Puncaknya, kami sedang mempersiapkan Lomba Cerdas Cermat berskala lebih luas, sebuah ajang untuk merayakan kecerdasan dan semangat kompetisi yang sehat. Setiap program baru ini dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih spesifik, memperluas jangkauan dampak kami, dan terus relevan dengan kebutuhan zaman.
Melihat kembali perjalanan ini, saya menyadari bahwa Cerdas.in telah menjadi wadah kepemimpinan yang luar biasa bagi kami. Proyek ini mengajarkan bahwa memimpin bukanlah tentang memiliki jabatan atau kekuasaan, melainkan tentang keberanian mengambil tanggung jawab atas sebuah keresahan. Ini adalah tentang kemampuan merangkul orang lain untuk percaya pada sebuah mimpi yang sama, dan bekerja keras bersama untuk mewujudkannya, selangkah demi selangkah.
Perjalanan ini masih sangat panjang, dan tantangan di depan pasti akan lebih besar. Namun, api semangat yang menyala sejak 12 November 2024 itu tidak akan pernah padam. Karena kami percaya, setiap buku yang kami donasikan, setiap sesi diskusi yang kami adakan, dan setiap anak yang kami inspirasi adalah sebuah investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih cerdas dan literat. Kami akan terus membaca, menulis, dan menginspirasi bersama Cerdas.in.