“Aku Enggak Suka Al-Qur’an” – BAKTI NUSA

“Aku Enggak Suka Al-Qur’an”

“Aku Enggak Suka Al-Qur’an”

Penulis: Fikha Adelia, BA 10 Regional Bandung

Di salah satu gedung di kota Moskow, ibu kota Rusia, saya tengah duduk beristirahat dan mengobrol dengan sesama relawan. Saat itu bulan Juli 2017, saya sedang mengikuti salah satu program exchange kerelawanan untuk mahasiswa di sana. Program itu bertujuan  membuat lingkungan yang inklusif bersama dengan teman-teman difabel Moskow melalui social project yang dilakukan antara teman-teman dari komunitas difabel dengan international exchange student. Kami dibagi menjadi bebeapa kelompok kecil.

 

Adalah Zenia, laki-laki bertubuh kekar dan garis wajah tegas yang duduk di atas kursi roda, mendatangi saya di sesi istirahat proyek kami dan menyatakan niatnya untuk berbincang dengan saya tentang Al-Qur’an, buku suci umat Islam. Zenia berasal dari kelompok kecil yang berbeda dengan saya, tapi memang kami beraktivitas di dalam ruangan yang sama.

 

Saya kira, pemilihan saya sebagai narasumber dadakan pada hari itu tentu saja berasal dari kerudung yang saya gunakan setiap harinya, bagaimana saya mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh walaupun di bawah teriknya sinar mentari musim panas, serta bagaimana saya meminta izin untuk sholat di tengah proyek, yang jelas menunjukkan identitas keagamaan saya.

 

Islamophobia sangat besar di Barat, tetapi sama halnya dengan dampak negatif yang ia berikan, banyak juga orang-orang penasaran yang akhirnya mau mencari tahu lebih dalam soal Islam, termasuk Zenia. Di sinilah saya tersadar saya sedang diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjadi salah satu pintu gerbang untuk orang-orang seperti itu. Gawat, pikir saya. Tapi entah kenapa, saya merasa senang. Istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat itu: excited!

 

Selain Zenia, ada dua orang kawan Rusia lainnya yang juga menunjukkan ketertarikannya mengenai Islam. Tetapi momen bersama Zenia ini sangat berarti untuk saya dalam mengingatkan bahwa dimana pun saya berada di bumi Allah, saya tetaplah ambassador dari Islam yang wajib punya Ilmu dalam membela, dan mengajak, orang-orang untuk mencari kebenaran Islam.

 

“Aku enggak suka Al-Qur’an,” ujarnya dalam bahasa Inggris. Saya terkesiap, namun juga tertarik. Ia kemudian melanjutkan, “karena di dalamnya ada tentang perbudakan.

 

Di tahap itu, saya bertanya-tanya apakah Zenia sudah benar-benar membaca Al-Qur’an dan mendapatkan ilmu mengenai konteks yang ada pada masanya. Saat itu saya menjawab seadanya, dari yang saya pahami, dan merelasikannya dengan konteks modern kini: bahwa perbudakan itu sudah menjadi bagian dari sistem masyarakat pada masa itu, dan di dunia modern kini, perbudakan itu, dalam konteks negatifnya yakni eksploitasi pekerja, bahkan kepada para pekerja yang berpakaian rapi dan tidak mendapatkan kekerasan fisik sekalipun, masih terjadi. Prinsip dari budak adalah orang yang bekerja kepada orang lain atau untuk orang lain, dan bekerja kepada orang lain serta mempekerjakan orang lain adalah konsep netral yang memang diperlukan dalam kehidupan manusia untuk menjalankan roda peradaban. Yang Islam lakukan adalah memberikan sentuhan manusiawi kepada ‘perbudakan’ yang semena-mena pada masa itu, memberikan aturan, memberikan hak dan kewajiban, baik kepada orang yang bekerja dan orang yang mempekerjakan. Bahkan, memerdekakan budak mendapatkan pahala yang luar biasa di dalam Islam.

 

Mengenai hal ini, saya sejujurnya belum tahu banyak dan setelahnya mencari tahu lagi apakah jawaban saya sudah tepat, tetapi saya rasa saya harus mampu menjawabnya pada momen itu untuk Zenia (yang mana hal ini harus juga dilakukan dengan hati-hati, karena isi maupun cara menjawab yang salah bisa semakin menyesatkan orang-orang dari Islam). Saya mendengarkan kuliah tentang perbudakan di dalam Islam dari Imam Omar Suleiman, yang teman-teman bisa tonton dan dengarkan di sini.

 

Terlepas dari jawaban seadanya itu, Zenia agaknya merasa puas dengan jawaban saya.

 

Tapi, dia punya keluhan lain:

“Bagaimana dengan pernikahan dini untuk perempuan? Itu kan tidak adil, para perempuan harusnya diberikan kebebasan untuk menuntut ilmu, untuk bekerja….”

 

Saya mendengarkan dia.

 

Kemudian, setelah sudah waktunya giliran saya yang bicara, saya menunjuk diri saya sendiri.

 

“Zenia, umurku sembilan belas tahun”.

Dia memandang saya, kemudian tersenyum, agaknya paham arah pembicaraan kami berikutnya.

 

“Jika Islam mewajibkan pernikahan dini untuk perempuan, aku harusnya sudah menikah dari dua atau tiga tahun lalu. Tapi tidak. Di usiaku, aku dibolehkan orang tuaku untuk terbang sendirian ke Rusia. Mamaku memintaku untuk menikah umur dua puluh lima, membolehkanku untuk belajar setinggi-tingginya, membolehkanku bekerja. Kalau Islam membatasi perempuan, Zenia, aku tidak akan ada di sini di depanmu, menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu”.

 

Dia tertawa,

kemudian mengangguk paham.

Setelah itu, kami melanjutkan diskusi proyek kami lagi.

 

++

 

Beberapa hari kemudian, pada acara puncak kami, setelah kami melakukan flash mob di salah satu taman untuk membantu kelancaran proyek Zenia dan teman-teman, Zenia menghampiri saya lagi.

“Apakah kamu tidak merasa panas?” tanyanya, membandingkan saya yang tertutup dari kepala sampai ujung kaki dengan teman-teman lainnya.

“Tidak,” jawab saya sembari ditambah candaan: “hell is hotter  (neraka lebih panas)”.

Kami sama-sama tertawa. Kemudian, dengan senyum paling tulus yang pernah saya lihat, dan ini menakjubkan karena senyuman ini berasal dari seorang lelaki yang secara umum adalah orang yang kritis dan keras,

 

Ia berkata, dengan lembut:

“You look beautiful in that”.

Saya pada momen itu memahami bahwa beautiful yang dimaksud Zenia bukan perkataan gombal; keindahan yang dia maksud bukan hanya tentang saya dan pakaian saya, tapi saya kira, tentang bagaimana Islam itu kini di matanya.

Thank you.”

Saya menimpalinya, dan di dalam diri saya, belum pernah saya rasakan, kebanggaan dan kelegaan bahwa saya punya Islam dan Allah di sisi saya.

 

++

 

Selain tentang Zenia, ada banyak peristiwa Islamophobia lain yang saya temui di Moskow yang juga menarik. Bukannya kapok, tapi saya malah bersemangat -akan ada masalah apa lagi, ya? Akan ada tantangan apa lagi, ya?- Bisa jadi pemikiran ini agak menyebalkan dan bisa jadi akan berubah jika saya terlalu banyak mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan.

Saya senang dengan waktu-waktu saya di Rusia karena itu medan yang sangat menantang saya untuk terus mencari ilmu dan mengasah keimanan dan keteguhan saya akan Islam, terutama ketika dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan kontemporer: Bagaimana posisi perempuan di dalam Islam? Kenapa harus menggunakan kerudung? Mengapa di dalam Al-Qur’an begini dan begitu?

Ketika di Indonesia, tentu saja saya sudah memiliki rasa bangga akan Islam, tetapi saya tidak pernah merasa semembara itu dan sebahagia itu untuk terdorong semakin mencari ilmu dan membantu meluruskan persepsi mengenai Islam. Barangkali karena mayoritas, saya jarang mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti yang dilemparkan Zenia di Indonesia, dan barangkali karena itulah kurang punya urgensi untuk mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan isu kontemporer dunia. Kata seorang ustadz yang menjadi guru pemikiran saya, apa lagi yang bisa mengangkat marwah Islam dan menjadikan Muslim sebagai cahaya peradaban, jika bukan ilmu Allah yang luas?

Pada saat itu saya sadar bahwa bumi Allah memang seluas itu,

bahwa ternyata memang ada celah yang banyak untuk meluruskan orang pada kebenaran tentang Islam,

dan bahwa di balik itu semua, selalu ada Allah yang menjaga saya.

 

 

Selamat menjalankan ibadah bulan suci Ramadan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar