Ada yang Lebih Berbahaya dari “Virus Corona” – BAKTI NUSA

Ada yang Lebih Berbahaya dari “Virus Corona”

Ada yang Lebih Berbahaya dari “Virus Corona”

(Oleh : Dinni Ramayani – PM BA 9 Padang)

Dewasa ini dunia dikejutkan oleh virus yang diduga lebih bahaya dari SARS dan MERS yang disebut sebagai “Virus Corona”. Semua orang takut akan virus ini, tidak hanya di Indonesia, tapi di berbagai belahan Dunia. Amazing!!!

Namun, ternyata ada virus yang jauh lebih berbahaya dari virus Corona ini. Saking bahayanya, virus ini tak hanya berdampak ketika kita di dunia, melainkan virus ini terus mengikuti hingga kita tiada. naudzubillahhimindzalik…. Tanpa kita sadari, mungkin kita pernah atau sedang terjangkit virus berbahayakan ini.

Virus jenis apakah itu?

hmm… Virus ini bernama “Virus Kesombongan”.

 

Yuk kita bahas tentang “virus” satu ini.

Sebelumnya kita perlu memahami bahwa “virus” sombong itu tidak satu tingkatan, namun sombong itu bertingkat. Seperti yang dilansir dari konsultasisyariah.com, tingkatan sombong bisa kita bagi menjadi dua :
1. Sombong yang bertentangan dengan iman secara keseluruhan
Itulah sombong yang menghalangi orang untuk menerima kebenaran islam. Kesombongan ini yang membuat mereka sama sekali tidak diizinkan masuk surga. Seperti kesombongan orang kafir, yang menyebabkan mereka tidak mau beribadah kepada Allah. Demikian pula kesombongan Iblis, kesombongan Firaun atau para musuh nabi lainnya.

2.Sombong yang tidak bertentangan dengan iman secara keseluruhan
Sombong jenis ini, tidak sampai menyebabkan pelakunya keluar dari islam, meskipun bisa jadi, itu dosa besar. Seperti menghina orang lain atau merasa lebih berjasa dari pada orang lain.

Kadangkala, sebagai ‘Aktivis’ yang bergerak di berbagai bidang, kita acapkali terlupa. Barangkali tanpa sadar pernah merendahkan orang lain, lalu pernah merasa paling berjasa dari pada orang lain.

Mba Riska pernah berkata, “Satu sisi, aktivis itu keren banget kalau udah kolaborasi, namun di satu sisi mereka memiliki ego yang tinggi, punya sifat yang selalu ingin didengar dan dituruti, dan susah menerima saran orang lain.” Ini hal yang bahaya, sebab itulah awal mula munculnya “virus kesombongannya”.

Ada hal yang kita lupa, jangan jadi aktivis yang merasa hebat segalanya. Merasa hebat adalah suatu kesombongan yang nyata. Dan merasa hebat adalah salah satu jalan untuk tidak mau menerima masukan pun kebenaran. Ya, itu egois namanya. Makanya aktivis ini perlu kita bina, kita beri amanah sosial agar bisa saling bekerjasama, dan pastinya kita lakukan evaluasi secara berkala. Salah satu tujuannya adalah untuk menghancurkan “virus kesombongan” yang barangkali hinggap di tubuh aktivis, maka evaluasi dan amanah sosiallah jadi salah satu vaksinnya.

Di luar sana banyak yang jauh lebih hebat dari kita. Bayanyak yang lebih berjasa dari kita. Jangan hanya karena kita sudah ikut dan meraih ini-itu, melakukan ini-itu lantas menjadikan kita sombong. Sombong itu pakaiannya Allah. Tak pantas seorang hamba memakainya.

Untuk lebih jelas, mari kita perlu melihat Sabda Baginda :

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :

“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat zarrah dalam hatinya.”

Kemudian ada sahabat yang bertanya,

“Ada orang yang suka memakai baju bagus, sandal yang bagus. Apakah termasuk kesombongan?”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Allah itu indah menyukai sikap berhias. Sombong itu menolak kebenaran dengan takabbur dan merendahkan orang lain. (HR. Muslim 275)

Lalu, bagaimana cara islam untuk meredakan “virus sombong” ini? Bagaimana vaksin virus ini ala islam?

Menurut Abu Laits al-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin, ada empat hal yang perlu dilakukan:

1. Menganggap bahwa semua yang terjadi itu berasal dari Allah SWT. Tanpa ada anugerah dan taufik dari Allah, tidak akan mungkin terjadi. Kalau dipahami semua itu terjadi atas anugerah Allah, maka kita akan sibuk untuk bersyukur dan tidak akan sombong.

2. Melihat bahwa nikmat yang diberikan Allah itu sangatlah banyak dan berati bagi kehidupan manusia. Apabila dia melihat dan merenungi betapa besarnya nikmat yang diberikan Allah, maka kita akan terus-menerus bersyukur kepada Allah.

3. Khawatirlah agar amalan yang dilakukan tidak diterima Allah. Kalau takut amalan tidak diterima Allah, maka sifat sombong tidak akan muncul, dan terus berharap kepada Allah.

4. Menganggap diri ini banyak dosa. Kalau merasa banyak melakukan amal baik, sifat sombong akan muncul. Tapi kalau menganggap diri ini banyak melakukan dosa dan amal buruk lebih banyak dari amal baik, sifat sombong tidak akan muncul.

 

Demikianlah empat hal yang perlu dibiasakan agar sifat sombong tidak muncul dalam diri manusia. Manusia tidak akan pernah mampu, tapi Allah yang mampukan. Manusia tak pernah tahu, tapi Allah yang beri ilmu.

Manusia tidak layak untuk sombong. Karena pada hakikatnya sehabat apapun manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Semua fasilitas hidup yang dinikmati manusia seluruhnya berasal dari kebaikan Allah SWT. Andaikan Allah mencabut satu nikmat saja dari kehidupan manusia, hidup pasti tidak akan normal dan susah. Sebab itu, jangan sampai kita sombong kepada sesama manusia, sebab tidak ada yang layak untuk kita sombongkan. Tapi realitanya, masih saja ada manusia yang sombong karena kehebatan, kekayaan, dan pangkat yang dimilikinya (Islami.co).

Allah…. Semoga kita tak digerogoti oleh virus yang sangat
berbahaya itu. Semoga Allah ampuni khilaf kita. Semoga Allah berkahi tiap langkah kita dan Allah lindungi dari virus yang lebih bahayaa dari Corona. Semoga Allah hancurkan “virus kesombongan” itu dari dalam diri kita. Aamiin…

 

(Penulis bernama Dinni Ramayani.  Alumni mahasiswa Jurusan PGSD Universitas Negeri Padang. Penerima Manfaat BAKTI NUSA 9 wilayah Padang. Founder Komunitas @jendelaprestasi. Silakan bersapa di ig @dinni_ramayani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar