Kartun Doraemon bagi saya adalah hiburan yang menarik, bagaimana tidak, setiap episode-nya Nobita selalu bersambat kepada Doraemon lalu mengeluarkan alat ajaib. Latar belakangnya simple, ya, diusik oleh temannya yaitu Suneo dan Giant (bukan mall), yang tak jarang Suneo bersahabat dengan Nobita untuk dieksploitasi sesuai inginnya dengan kemampuan Honekawa yang pandai bersilat lidah dan memiliki dua wajah (hipokrit). Sebab lain karena ketololan Nobita sendiri, dan menuruti kemauan Shizuka yang dengan paras cantik dan perawakan yang lembut membuat ia hanyut dalam keterpesonaan sehingga untuk mendapatkan hati Shizuka ia rela berusaha mati-matian untuk mengabulkan keinginannya yang tak jarang egois dan pragmatis.
Sifat yang ditunjukkan oleh Suneo Honekawa dan Shizuka Minamoto merefleksikan sifat politisi hari-hari ini dan tentu mereka adalah politisi terbaik sejak dini. Barangkali presiden bisa menjadikan mereka menteri termuda. Memang, apa hubungan politik dengan yang dilakukan oleh mereka? Apa buktinya? Mari kita bahas perlahan.
Suneo Honekawa adalah anak tajir dari orang tua dan turunan orang kaya raya–dari model rumah hingga gaya hidup. Bukan hanya itu yang membuat Suneo dikagumi oleh temannya, namun disisi lain, karena ia pandai menempatkan kapan menjadi baik dihadapan Giant, kapan harus memusuhi Nobita dan kapan meyakinkan Nobita untuk merayu doraemon mengeluarkan alatnya sehingga dengan mudah mengalahkan Giant—intinya pandai-pandai menempatkan ‘wajah’ dan bersilat lidah. Tak jarang ia adalah pengadu domba terbaik pada masanya. kesemua itu dilakukan Suneo dengan motif yang bersifat pragmatis dan individualistis.
Senada dengan Suneo Honekawa, Shizuka Minamoto pun melakukan dan dengan motif yang sama, hanya saja metode yang digunakan oleh Shizuka lebih elegan, tak jarang kita tenggelam dengan kekasaran Giant, kelicikan Suneo, dan ketololan Nobita sehingga mewajarkan apa yang dibuat oleh Shizuka. Namun, jika ditinjau dari sisi politik, metode yang digunakan oleh Shizuka jika dijadikan landasan nilai bagi seorang politisi maka akan berbahaya bagi keberlangsungan negara, bagi masyarakat dan demokrasi. Bagaimana tidak perawakan baik yang sedari awal ditunjukan oleh Shizuka ternyata hanya semu. Jika ingin dibilang pintar, ia bergaul dan memuji dekisugi dengan itu ia memperoleh legitimasi, jika ingin memperoleh perlindungan pergi ke Giant, jika ingin kesenangan dan kemegahan duniawi dekati Honekawa—rekan seperlicikan. Dekati yang satu, tinggalkan yang lain. Koalisi dengan satunya, oposisi dengan yang lainnya. Begitulah siklusnya.
Dalam melancarkan usahanya, Suneo dan Shizuka secara tidak sadar ataupun barangkali telah banyak membaca buku politik, telah banyak menggunakan dasar-dasar politik. Sebagai contoh adalah sikap mereka yang telah dijabarkan di atas, menunjukkan guna menjalankan apa yang diinginkannya mereka perlu memiliki kekuasaan (power). Untuk memperoleh kekuasaan Suneo menggunakan kekayaannya. Lain dengan Shizuka dengan keluarga yang tak seberapa kaya, terlebih dahulu meyakinkan teman-temannya bahwa ia memiliki citra yang baik. Sehingga dengan kekayaan dan kepercayaan digenggam-lah kekuasaan itu. Kekuasaan dalam hal ini adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain sesuai dengan keinginannya.[1] Cara yang dipakai dapat bersifat persuasi dan jika perlu bersifat paksaan, kadangkala seperti Suneo.
Kedua contoh tokoh di atas sesuai adalah representasi dari politik dalam arti negatif. Maka dari itu, apabila seorang kepala negara menghendaki otoritarianisme, kekuasaaan yang oligarkis dan politik pragmatis, maka sudah sepatutnya Shizuka Minamoto dan Suneo Honekawa adalah kandidat yang paling cocok untuk daftar calon kabinet. Mereka-lah para demagog (meminjam istilah dalam buku how democracies die) yang kaffah. jika demikian, benar-lah apa yang dipaparkan oleh Peter Merkl, “politics at its worst is a selfish grab for power, glory and riches (politik dalam bentuk yang paling buruk adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan pribadi).”[2]
Sebagai penutup, gaya berpolitik layaknya Shizuka dan Suneo hanya akan merusak stabilitas pertemanan doraemon dan kawan-kawan, merusak tata sosial, dan bahkan jika dijadikan landasan berpolitik politisi hanya akan merusak tata pemerintahan, sehingga masyarakat menjadi chaos, dan keadilan hanya akan bersifat delusi. Karena sudah sejatinya politik harus digunakan sebagai alat distribusi keadilan (justice) paling masif.
[1] Budiarjo Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik. Hlm. 18.
[2] Ibid, 17.