Televisi: Dari Alat Politik sampai Pendukung Kapitalisme (Bagian 1) – BAKTI NUSA

Televisi: Dari Alat Politik sampai Pendukung Kapitalisme (Bagian 1)

Televisi: Dari Alat Politik sampai Pendukung Kapitalisme (Bagian 1)

 

Ditulis oleh Osadhani Rahma P
BAKTI NUSA 9 Semarang

 

Pernahkah anda bertanya, kepada siapakah media Televisi memihak?
Rakyat? Pemerintah? atau, Pemilik Modal?

Mari kita cari tahu jawabannya dengan membahas hal yang paling dasar terlebih dahulu.

Bagaimana Sejarah Lahirnya Televisi?
Televisi pertama kali muncul di London pada tahun 1925. Saat itu, terdapat seorang insinyur listrik bernama John Logie Baird yang menciptakan alat elektronik bernama Nipkow Disk. Entah suatu kemalangan atau keberuntungan, Baird yang saat itu memiliki masalah kesehatan akhirnya tidak bisa bergabung dalam Perang Dunia I dan memilih untuk menekuni bidang elektronika. Nipkow Disk buatannya kemudian dikembangkan menjadi kotak televisi elektromekanik hingga akhirnya dapat dijual secara komersial di Inggris, Amerika Serikat dan Rusia pada tahun 1928-1934. Pada tahun 1936, untuk pertama kalinya dalam sejarah, olimpiade Berlin disiarkan ke stasiun televisi di Berlin dan Leipzig di mana masyarakat umum dapat menyaksikan setiap perlombaan langsung melalui Televisi. Sejak saat itu, televisi terus berkembang dan mulai bermunculan stasiun-stasiun televisi baru.

Televisi bukan sekedar media pemberi informasi
Sejak kemunculannya, Televisi mampu menggeser para pendengar setia radio untuk memilih Televisi sebagai media informasi favorit mereka. Tidak hanya berfungsi sebagai transmitor informasi, Televisi juga mampu mengubah dunia melalui tayangan audio-visualnya. PBB bahkan menganggap Televisi telah berjasa besar dalam membawa perhatian dunia pada konflik, ancaman terhadap perdamaian serta keamanan. Televisi juga mampu menarik perhatian masyarakat pada isu-isu utama lainnya, termasuk isu-isu ekonomi dan sosial. PBB juga mengklaim Televisi sebagai alat utama dalam memengaruhi opini publik dan diyakini memiliki kekuatan besar dalam proses pengambilan keputusan masyarakat.

Teori Kultivasi
Pada Tahun 1976, George Gerbner dan Larry Gross mengemukakan sebuah teori yang disebut sebagai Teori Kultivasi. Teori ini beranggapan bahwa manusia yang selalu menonton tayangan tertentu dengan waktu yang lama, maka akan memiliki sebuah pemahaman bahwa dunia di sekelilingnya sama seperti yang ditayangkan di televisi. Misalnya saja seseorang yang selalu menonton acara-acara yang mengandung tayangan kekerasan dengan durasi lama dan frekuensi yang tinggi, maka akan memiliki pola pikir bahwa perilaku kekerasan seperti yang ditunjukkan di televisi mencerminkan kejadian yang normal terjadi di sekitarnya. Kasus serupa pun baru-baru ini terjadi di Indonesia. Pembunuhan berencana dilakukan oleh seorang istri terhadap suami dan anak tirinya. Pelaku mengaku bahwa tindakan pembunuhan tersebut ia lakukan lantaran terinspirasi oleh tayangan sinetron yang biasa ia tonton. Itulah mengapa, televisi tidak dianggap sebagai sebuah media biasa, namun sebagai senjata ampuh untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat. Bahkan beberapa pakar sosial menyebutkan Televisi memiliki pengaruh yang sama seperti Agama.

Siapakah yang mengontrol Televisi?
Televisi sebagai media massa, tentu memiliki struktur tata kelola yang mempengaruhinya. Ishadi SK (2014) dalam bukunya yang berjudul “Media dan Kekuasaan Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto” menjelaskan bahwa terdapat lima faktor yang mempengaruhi isi media. Pertama individual level (jurnalis secara individu), kedua media routines level (rutinitas media dalam menentukan berita), ketiga organization level (menyangkut kebijakan yang ditetapkan dalam organisasi media), keempat extra media level (faktor diluar media, seperti narasumber, pengiklan, dan khalayak), kelima ideological level (menyoroti bagaimana pihak yang berkuasa berperan dalam menentukan agenda media). Meski praktik jurnalistik diharuskan bersifat independen dan tidak memihak, namun pada kenyataannya hampir semua media, termasuk televisi, mengalami dilema yang cukup serius. Nyatanya keharusan tersebut akan selalu berbenturan dengan lima faktor di atas, dimana media televisi tidak hanya dipengaruhi oleh para jurnalis, melainkan oleh faktor pengaruh lain yang lebih besar. Informasi yang ditayangkan pun bukanlah informasi yang serta merta disampaikan secara menyeluruh sesuai keadaan yang sesungguhnya. Terdapat serangkaian proses yang harus dilalui untuk mengemas informasi sebelum disuguhkan kepada khalayak. Dalam proses inilah, berbagai macam kepentingan bisa hadir mengontrol isi informasi Televisi.

Kritik Terhadap Media Televisi
Denis McQuail (2001) menyebutkan bahwa selama ini, Teori Kritis menafsirkan media massa sebagai agen dari para pemegang kekuasaan yang mendominasi dan memegang kendali. Mereka berusaha untuk memaksakan definisi dan nilai-nilai mereka sendiri terhadap berbagai situasi yang ada serta meminggirkan atau menolak keabsahan pihak lawan. Media seringkali dipandang sebagai pihak yang melayani tujuan dan kepentingan pihak-pihak yang saling bertentangan dan yang menawarkan versi-versi yang bertentangan dari suatu tatanan sosial yang sesungguhnya atau yang diharapkan.
Dengan kata lain, media massa termasuk Televisi adalah sarana bagi kelompok dominan untuk mengontrol kelompok yang tidak dominan, bahkan meminggirkan mereka dengan cara menguasai dan mengontrol media. Hal ini tentu bertentangan dengan Kode Etik Jurnalistik yang mengatakan bahwa wartawan Indonesia harus bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, tidak beritikad buruk, , memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Dalam pelaksanaannya, banyak kelompok dominan yang berkuasa atas suatu media mampu mengontrol isi dari berbagai informasi yang disajikan.

Televisi Lahir di Indonesia karena Adanya Ambisi Orde Lama
Televisi mulai diperkenalkan ke Indonesia di awal tahun 1950-an, dimana saat itu Menteri Penerangan Maladi mendesak Presiden Soekarno untuk membangun TVRI dengan alasan siaran televisi akan memberikan keuntungan politis bagi pemerintah dalam masa kampanye Pemilihan Umum 1955. Gagasan Maladi saat itu ditentang oleh menteri-menteri kabinet karena dianggap terlalu mahal. Namun pada tahun 1959, Maladi mengusulkan gagasan tersebut kembali dengan alasan untuk mendukung pelaksanaan Asian Games IV yang akan berlangsung di tahun 1962. Ia percaya bahwa liputan Asian Games melalui Televisi dapat membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan bangsa yang sempat kacau karena hadirnya federalisme pada awal Kemerdekaan. Usulan kedua Maladi akhirnya diterima oleh Presiden Soekarno. TVRI berhasil diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1962 dan melakukan siaran resmi perdananya pada pembukaan Asian Games, 24 Agustus 1962. TVRI saat itu berhasil memenuhi ambisi Presiden Soekarno untuk menjadikannya sebagai alat penyebar kebanggaan bangsa tatkala Indonesia yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan dalam Asian Games akhirnya berhasil menempati posisi keempat setelah China, Jepang dan Korea.

Menilik Peran Televisi di Masa Orde Baru
Ada tiga peran yang dimainkan oleh Televisi pada masa Orde Baru, yakni sebagai alat politik (political tool), pendukung kritis (critical supporter) dan pembangkang (spoiler). Saat itu, TVRI sebagai televisi pemerintah tentu saja menjalankan peran pertama, menjadi alat propaganda pemerintah. Pemerintah sangat mengontrol isi program TVRI melalui berbagai cara salah satunya dengan menempatkan Menteri Penerangan sebagai Komisaris Utama. Segala isi pemberitaan TVRI harus selaras dengan Standard Operating Procedure yang dibuat oleh Menteri Penerangan. Hampir setiap hari TVRI hanya menyiarkan kegiatan pemerintah seperti upacara pelantikan pejabat negara, pidato kebangsaan dan tayangan membosankan lainnya. Tak ada kritik dan tak ada opini lain selain pujian pujian untuk pemerintah. Semakin lama, TVRI menjadi media yang tidak punya misi dan semangat untuk meningkatkan kualitas siaran. Lebih buruknya lagi, TVRI bahkan mengabaikan akurasi dan sering menayangkan program yang dianggap masyarakat sebagai program yang“asal jadi”. Masyarakatpun kemudian enggan menikmati sajian program TVRI.

 

Selanjutnya…

Hijrahnya TVRI didorong oleh munculnya TV Swasta

 

Referensi:
Ishadi SK. 2014. Media dan Kekuasaan Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto
https://tirto.id/bagaimana-televisi-ditemukan-dan-mengubah-dunia-cAlm
https://id.wikipedia.org/wiki/Televisi
https://www.researchgate.net/publication/326034932_Mengenal_Teori_Kultivasi_dalam_Ilmu_Komunikasi

Image Source:
http://polit-technolog.ru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar