Sukses Mandiri Finansial Sebelum Usia 30 Tahun

Sukses Mandiri Finansial Sebelum Usia 30 Tahun

BANYAK orang menimba ilmu bisnis, tetapi tidak semua berani dan mau menerapkannya. Berbisnis memang bukan hanya modal ilmu, melainkan juga keberanian.

Itulah yang terlihat di diri Mega Shintya Andriyani. Bekal ilmu bisnis diterapkan dengan membuat ritel daring pakaian dan aksesori. Ia bukan sekadar menjual, melainkan juga menerapkan sistem reseller. Kini ia berhasil mencapai cita-cita mandiri fi nansial di usia 22 tahun. Berikut kiat dan perjalananya membangun bisnis yang ia tuturkan kepada Media Indonesia, pada Rabu (2/1).

Bagaimana awal belajar berbisnis?
Saya belajar bisnis semenjak diterima di Pondok Preneur Indonesia yang didirikan di Solo, saya dapat beasiswa pada 2015, saat masih kuliah semester 3. Pondok Preneur ini seperti beasiswa dengan sistem pesantren dan mempelajari soal bisnis. Mulanya saya tidak mengerti sama sekali soal bisnis.

Sistem di Pondok Preneur seperti apa?
Jadi, saya tetap kuliah di Universitas Sebelas Maret dan juga ikut organisasi. Bakda magrib baru masuk pondok dan belajar di situ. Pembelajarannya mencakup 3 poin, di antaranya kepemimpinan, kewirausahaan, dan diniah (agama). Misalnya, hari pertama membahas mengenai pemasaran (marketing). Kedua, belajar dari sisi agamanya juga seperti fikih muamalah dan pilihan bahan ajarnya bergantung pada kebutuhan kita. Bahkan, kami juga belajar hafalan Alquran dan hadis. Lalu, hari selanjutnya mempelajari soal kepemimpinan.

Mempelajari kepemimpinan pun bukan di tataran teori, tetapi langsung ke praktik. Praktek kepemimpinannya langsung berkaitan dengan bisnis, misalnya, diberikan clue (petunjuk) untuk menggelar seminar nasional dengan tokoh nasional inspiratif dengan budget yang sudah ditentukan. Kami harus mencari sendiri mulai dana, konsep acara, hingga tamu yang akan diundang.

Beasiswa ini diberikan selama 2 tahun. Nah, pada tahun ketiga saya diberikan kesempatan untuk ikut mengajar juga di sini. Selain dari Pondok Preneur Indonesia dan Business Owner School, saya juga menambah ilmu bisnis dengan mengikuti seminar, workshop, atau pelatihan. Saya selalu investasikan waktu dan uang untuk belajar. Saya merasa harus berani untuk berinvestasi besar lewat belajar kalau ingin berkembang.

Lalu, bagaimana akhirnya berani memulai bisnis?
Motivasi terbesar dari orangtua dan keluarga. Saya ingin sekali bisa mandiri finansial secara utuh di sebelum usia 30 tahun. Saya ingin bisa memiliki usaha yang bisa dilihat keluarga besar. Jadi saya berusaha untuk merintis usaha sedini mungkin.

Saya memulai dengan Rafanda Store pada 2015. Ini bisnis ritel khusus di penjualan tas dan sepatu asli Solo. Setahun kemudian saya mulai merintis Plaza Preneur Mandiri. Di bisnis kedua ini saya berjualan khusus pakaian. Saya melihat peluang di Solo itu kan pusatnya grosir pakaian juga, ternyata orang itu setiap hari ada saja yang membeli baju. Akhirnya, saya masih melihat peluang yang besar lewat fesyen muslim. Meski banyak yang meragukan untuk melakukan bisnis ini.

Namun, kalau kita tidak teguh pendirian dan hanya ikut-ikutan, justru bisnis kita menjadi sulit untuk berkembang. Di Plaza Preneur, saya tidak hanya berjualan, tetapi juga membuat sistem reseller. Plaza Preneur ini mulai beroperasi pada 2017 dan sistemnya kemudian saya terapkan di Rafanda Store.

Saat ini secara keseluruhan baik Plaza maupun Rafanda sudah memiliki 3 orang staf di Solo dan 150 reseller yang tersebar di beberapa kota di Pulau Jawa, Kalimantan, hinga Sulawesi. Omzet hingga saat ini mencapai Rp60 Juta per bulan. Saya bersyukur dengan penghasilan segitu, sudah bisa membantu orangtua.

Mengapa memutuskan memakai sistem reseller?
Jadi, di Plaza Preneur itu saya khusus bisnis baju muslim secara online. Saya mengambil barang dari beberapa produsen di Solo yang memproduksi dan menjualkannya secara online. Dengan dibuka reseller-nya di beberapa kota itu malah lebih cepat terdistribusikan jika dibandingkan dengan menjualnya secara offline.

Untuk barangnya sendiri, saya bekerja sama dengan teman-teman yang memang produsen. Di luar sana banyak yang produksi barang, tetapi bingung memasarkannya. Dengan begitu, saya bekerja sama dengan mereka.

Untuk sistem reseller, saya mengadakan open recruitment (oprec) terbatas di beberapa kota yang menjadi target pemasaran. Saya menggunakan sistem oprec seperti yang sudah diajarkan di Pondok Preneur.

Barang-barang yang paling banyak dijual, di antaranya hijab, gamis, baju set syari, atau baju couple. Terutama saat momen tertentu seperti Idul Fitri.

Apakah dalam bisnis kamu murni mencari profit atau berusaha memasukkan sisi sosial juga?
Saya mengambil karyawan dari anak-anak SMA yang tidak bisa melanjutkan kuliah, ternyata mereka sangat membutuhkan pekerjaan. Saya berpikir kalau usaha saya semakin besar, akan semakin banyak orang yang terbantu.

Reseller juga kan punya keluarga, ketika bisa mendapatkan penghasilan dari bisnis ini saya merasa senang. Prinsip saya bukan mengenai kekayaan seperti yang orang luar pikirkan. Akan tetapi, semakin usaha saya besar, akan semakin banyak merekrut dan membantu orang lain.

Bagaimana jika ada yang ingin belajar bisnis dari kamu?
Saya memfasilitasi mereka yang benarbenar ingin belajar bisnis dengan cara membuka kelas konsultasi mahasiswa entrepreneur. Dalam wadah ini, mereka bisa belajar ketika saya membuka kelas offline maupun online. Untuk kelas online, biasanya saya berkolaborasi. Tidak hanya berbicara mengenai bisnis, tapi juga public speaking karena skill penting untuk menjaring investor dan marketing. (M-1)

sumber : http://m.mediaindonesia.com/read/detail/208457-sukses-mandiri-finansial-sebelum-usia-30-tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar