Seluas-luasnya Iri

Seluas-luasnya Iri

 

Oleh Isna Nur Insani (Mahasiswa UNS, PM BAKTI NUSA Solo)

Sering terngiang-ngiang di telinga tentang indahnya sedekah, apalagi sedekah di bulan Ramadhan, pahalanya mengalir dan terus berlipat ganda.

“Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan,” (HR. Bukhari 1419 dan Muslim 1032).

Dalam hadis tersebut disebutkan, betapa sedekah itu tidak menunggu waktu, tidak perlu menunggu kita menjadi kaya dan mampu untuk menyedekahkan harta kita untuk orang lain.

Di ranah mahasiswa, kita mengenal berbagai cara untuk bersedekah. Antara lain saat penggalangan dana korban bencana melalui Badan Eksekutif Mahasiswa maupun lembaga dakwah, bersedekah melalui lembaga zakat yang bekerja sama dengan takmir masjid kampus, bahkan melalui platform-platform penggalangan dana seperti kitabisa.com, bawaberkah.org dan lain sebagainya.

Kemarin sore, saya sempat melihat instastory salah satu teman saya di kampus, Narendra Rangga, mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS yang merupakan founder komunitas Bismillah. Dalam ceritanya ia berujar, dari dulu ia memiliki harapan untuk bermanfaat bagi Palestina yang sering mendapat penyerangan, bom, blokade dan yang lainnya dengan usahanya sendiri, tanpa melalui penggaangan dana. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menulis buku dan hasil penjualan buku itu sekian persen ia akan donasikan untuk Palestina. Ia mulai merealisasikan idenya, menulis, menerbitkan, dan mendistribusikan ribuan buku-bukunya. Ia dibantu sahabat-sahabatnya, ada yang  membuat desain dan ada yang menjadi marketing buku.

Tabungan kebaikan itu dirilisnya sejak awal tahun ini, dimulai dengan  kata-kata berikut, “Adolf Hitler terkenal sebab pembantaiannya, Albert Einstein besar berkat penemuannya, Nabi Muhammad melegenda karena akhlak dan sikapnya. Semua sama-sama berkarya, yang berbeda adalah ruh dan nilai kebermanfaatan yang dibawanya,” Ia ingin karyanya tersebut (dalam bentuk buku), berjudul “Artistika Manusia Seutuhnya” tetap ada meski dirinya tak lagi bernyawa dan karyanya tersebut menjadi jalan memberikan cinta untuk Palestina.

Lewat penjualan bukunya tersebut, di bulan Ramadan penuh berkah ini, ia salurkan keuntungan sebesar Rp. 15.000.000 untuk Palestina melalui lembaga kemanusiaan. Tercapai sudah harapnya untuk membantu Palestina dari hasil usahanya sendiri, lewat kata demi kata yang ia tulis dalam lembaran-lembaran kertas.

“MasyaAllah, semoga suatu saat nanti saya bisa seperti Naren,” doa saya dalam hati.

Belum tuntas rasa iri yang ada di dalam hati saya, pagi ini, saya menangis, menangis haru. Kalau bisa dibilang, seluas-luasnya iri. Saya membaca kisah yang lain, tadi malam, tepatnya Selasa, (7/5/2019) di Masjid Nurul Huda (masjid kampus UNS) mengundang Syekh Thaha al-Junayd, Qari Internasional dari Bahrain sebagai imam tarawih dan Syekh Ali Jaber yang merupakan juri Hafiz Indonesia sebagai pengisi kuliah tarawih. Jamaah malam itu meluber, padat merayap baik jamaah putri maupun putra. Ribuan mungkin jumlahnya.

Dalam satu termin kesempatan, Syekh Ali Jaber bertanya kepada seluruh jamaah tentang siapa yang mau menyedekahkan hartanya sebesar 20 juta untuk membangun pesantren, Narendra langsung lari dan memastikan ia yang mendapatkan kesempatan itu. Ia datang dengan berseri-seri, dialah yang menjadi satu-satunya orang dari ribuan jamaah di malam itu yang merebut kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Ia, Narendra Rangga. Seorang mahasiswa yang membuktikan bahwa siapapun bisa menyedekahkan hartanya. Ia bukanlah pengusaha yang bergelimang harta, bukan pegawai-pegawai BUMN, bukan pula pejabat-pejabat negara. Ia yang lebih menyayangi manfaat dari apa yang menjadi kepunyaannya, daripada memilikinya. Di saat kita bahkan masih enggan mengeluarkan lembaran seratus ribu, lima puluh ribu, bahkan dua puluh ribu pun kita masih sayang. Ia, pemuda 20 tahun yang mengikhlaskan 35 juta hasil jerih payahnya lenyap dalam satu hari untuk kepentingan umat.

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu; lalu dia berkata (menyesali) “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S. Al Munafiqun: Ayat 10)

Semoga, langkah-langkah Narendra mampu memotivasi kita semua, mahasiswa-mahasiswa, pemuda-pemuda, dan umat muslim di seluruh dunia bahwa siapapun bisa berbagi dan bersedekah.

One thought on “Seluas-luasnya Iri”

  1. Dyah NR says:

    MasyaAllah sangat menginspirasi sekali, terharu bacanya
    Semoga kelak bisa seperti Narendra. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar