Muhammad Nasir – BAKTI NUSA

Muhammad Nasir

Muhammad Nasir

Dalam perjalanan hidup setiap kita pasti pernah menjalani suatu perjalanan unik dan tergolong baru hingga merasa menemukan sebuah perjalanan yang sangat berkesan sepanjang hidup kita, berkesan dalam artian bahwa perjalanan itu adalah salah satu perjalanan terbaik yang pernah dilalui, ya merupakan sebuah keniscayaan dalam dinamika hidup yang amat berharga ini kita akan dipertemukan dengan penggalan kisah-kisah hidup yang memiliki nilai-nilai yang penuh makna yang mendalam.

Pada tulisan singkat ini saya akan berbagi cerita tentang perjalanan luar biasa berkesan dan bermakna dalam perjalanan hidup saya,saat itu berawal dari sebuah niat untuk belajar dan menambah wawasan, pada kesempatan pendataan salah satu program BAKTI NUSA yakni marching for boundary atau MFB, merupakan program innovatif dari Bakti Nusa dengan memberikan kesempatan bagi penerima maanfaat untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). mungkin sebagian orang akan menepi dengan program serupa MFB, karena yang terbayang disana tentu adalah sebuah daerah dengan akses dan fasilitas yang serba terbatas dan mungkin saja tidak nyaman bagi sebagian orang, karena akan tak mudah untuk beradaptasi disana. Namun saya adalah sebagian lagi yang berpikir sebaliknya, saya mantapkan untuk andil dalam program ini.

Dengan waktu yang begitu padat baik itu akademik dan non akademik saya memutuskan akan berangkat untuk melaksanakan program MFB dengan jadwal yang benar-benar harus saya ketatkan, karena tak bergitu berselang waktu itu saya baru saja pulang dari melaksanakan program student mobility ke eropa tengah, tepatnya di Republik Slovakia, sungguh suatu perjalanan yang membuat fisik cukup shock dan bisa dikatakan jetleg tingkat akut, karena selama lebih satu bulan saya di Slovakia yang saat itu adalah musim dingin, lalu sepulang dari slovakia saya bersiap untuk berangkat program MFB dengan daerah penempatan di desa engkrengas, kabupaten kapuas hulu, Kalimantan Barat, yang saat itu adalah musim panas ditambah dengan letak kalimantan barat yang berada di titik bumi khatulistiwa, sehingga tak heran suhu udara disana begitu panas, ya saya anggap disinilah letak ujian pertama dalam perjalanan ini. Mungkin inilah perjalanan yang dikatakan dari luar negeri hingga ke polosok negeri.

Hari pengabdianpun akan segera dimulai, keberangkatan kami dimulai dari markas Dompet Dhuafa Pendidikan di parung bogor, setelah sehari sebelumnya dilakukan pembekalan bagi PM Bakti Nusa yang akan ditempatkan dilokasi masing-masing, perjalanan dimulai sejak 01.30 WIB dini hari, hingga akhirnya tiba di Bandara Soekarno Hatta kami bersama pun berdoa semoga diberikan kelancaran dalam perjalanan nanti. Hingga rombongan berpisah untuk menuju penerbangan masing-masing, dan kali ini saya berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Zaki Founder Senyum Desa Indonesia yang tak lain ialah juga PM Bakti Nusa 9 Surabaya. Sebuah kesempatan berharga bisa berkolaborasi dengan beliau yang tentu sudah terlebih dahulu mengecap manis dan asam garamnya pengabdian di daerah terpencil. Alhamdulillah, InsyaAllah bisa belajar banyak dari beliau ucap saya dalam hati.

Hingga akhirnya kami mendarat di kota Pontianak, dan hawa panas bumi khatulistiwa sudah mulai terasa, hal ini juga membakar semangat kami untuk pengabdian kali ini, tak lupa sebelum menuju lokasi kami menyempatkan shalat jumat di masjid terbesar di kota Pontianak yakni Masjid Raya Mujahiddin, saat itu saya ditemani oleh Alif Fitrah PM Bakti Nusa 9 Pontianak, hingga kami tak melewatkan juga untuk menunaikan shalat Ashar di masjid tertua dan bersejarah berdirinya kota Pontianak, yakni masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman, sebuah moment yang tak terlupakan, mempunyai kesempatan mengunjungi Rumah Allah ini saat perdana tiba di kota Pontianak.

Sore harinya, kami melanjutkan perjalanan ke daerah penempatan, dengan menggunakan transportasi darat menuju kecamatan selimbau kabupaten kapuas hulu, perjalanan darat menghabiskan waktu kurang lebih 14 (empat belas jam) dari kota Pontianak, sungguh perjalanan darat terpanjang yang pernah saya lalui, lelah pasti, namun tak mneyurutkan niat kami untuk mengabdi. Sesampainya di kecamatan selimbau pada esok siangnya disana kami melanjutkan perjalanan dengan transportasi air, yakni sepit kalau kata masyarakat selimbau, yaitu sebuah sampan yang dberi mesin dibelakangnya. Saat itu kami dijemput oleh PM Bakti Nusa 8 yang sebelumnya bertugas disana, Perjalanan air melewati anak sungai kapuas memakan waktu 1 (satu) jam untuk sampai di desa engkrengas. Dengan menelusuri anak sungai kapuas suasana alam dan hutan yang masih asri menjadi suguhan yang menakjubkan dalam perjalanan ini, hingga perjalanan terasa singkat, pulau borneo benar-benar istimewa.

Hingga sampailah kami di desa engkrengas yang sebelumnya hanya pernah kami dengar dari cerita dan bacaan laporan Bakti Nusa sebelumnya yang pernah mengabdi di desa ini, pertama kami sampai di desa sambutan tulus dan hangat masyarakat serta anak-anak desa engkrengas begitu membuat saya terkesima, mereka begitu gembira dengan kedatangan PM Bakti Nusa, hingga kami di panggil Bapak Guru oleh anak-anak, terbersit dalam pikiran,pasti anak-anak ini merindukan seorang guru dari Bakti Nusa, Khususnya dari Dompet Dhuafa Pendidikan, karena beberapa tahun Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa telah mengabdi disini, pasti memberikan kesan luar biasa bagi mereka, sehingga mereka seperti mempunyai harapan baru  melalui program dari Bakti Nusa Dompet Dhuafa. sungguh bergetar jiwa ini menyaksikan walaupun jauh dari akses dan fasilitas semangat anak-anak di Desa Engkrengas sudah cukup membuat saya melupakan lelahnya perjalanan, saya berucap dalam hati, baiklah saya akan mengukir bagian sejarah berharga dalam hidup saya. Bismillah.

Besambung..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar