Antara Adab dan llmu

tulisan oleh Halah, penerima manfaat BAKTI NUSA Palembang angkatan 9

Al adaabu fauqal ‘ilm (adab berada di atas ilmu)

Jika ada pertanyaan yang mengenai keduanya mana yang lebih dahulu tentunya mempelajari mengenai adab terlebih dahulu baru mempelajari ilmunya sebagaimana pepatah diatas. Saat ini banyak terjadi fenomena orang yang pandai, pintar namun kehilangan adab. Yang membuat ilmu yang didapat tidak serta merta dapat meninggikan derajat pemiliknya bahkan dapat menjatuhkan seseorang kedalam jurang kehinaan.

Contohnya saja ya baru baru ini kita melihat perilaku yang ditunjukkan oleh salah seorang anggota DPR dalam sebuah acara talkshow yang diselenggarakan oleh salah satu tv swasta di Indonesia, bukankah mereka yang duduk dalam jajaran tersebut adalah deretan orang orang cerdas, pintar dan tentunya memilki kepakaran dalam bidang masing-masing, namun coba lihat bagaimana perilaku yang ditunjukkan ketika acara talkshow tersebut, bisa dikatakan ia hampir kehilangan adab. Dalam situasi itu ia dengan entengnya meremehkan orang yang menjadi lawan bicaranya, lantas mengeluarkan kata kata kasar yang memperlihatkan emosi marahnya dengan jelas.

Nah kita tentunya tidak ingin memiliki pribadi yang demikian bukan, kita justru berharap bahwa ilmu yang kita miliki mampu memberikan banyak kebermanfaatann bagi orang sekitar kita.

Itulah mengapa pelajaran mengenai adab menjadi penting, agar kita menjadi orang-orang yang disebutkan seperti pada surah al mujadilah ayat 11 bahwa Allah akan mengangkat ketinggian derajat orang-orang yang berilmu, serta pada surah ibrahim ayat ke 24-25 bahwa Allah mengatakan bahwa orang dengan perkataan yang baik ibarat pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, yang mana pohon tersebut menghasilkan buah yang dapat dimakan, yang berarti buah yang dihasilkan mengandung kebermanfaatan bagi orang lain.

Orang orang demikian yang disebutkan pada ayat-ayat tersebut pastinya mereka orang-orang yang senantiasa memilki adab terhadap ilmu. Dalam kitab “ta’limul muta’alim” yang dituliskan oleh imam Az-zarnuji yang merangkum potongan kisah ulama terdahulu tentang bagaimana adab yang mereka lakukan dalam menuntut ilmu. Kaidah yang harus sama-sama dipahami bagi seluruh penuntut ilmu ialah wajib memuliakan ilmu dan sang pemilik ilmu(guru, dosen, ustadz, serta  para ahli). Ali Ra Mengatakan “aku adalah hamba sahaya bagi orang yang mengajariku satu huruf, jika mau ia boleh menjualku dan jika mau ia membebaskanku” pernyataan ali tersebut memberikan kita sebuah pelajaran berharga betapa seorang ali yang merupakan salah satu dari keempat khulafaur rasyidin, yang sejatinya memiliki kedudukan tinggi, namun begitu menghormati gurunya, hingga ia rela diperlakukan sebagaimana hamba sahaya(budak).

Takzim terhadap ahli ilmu akan mendapatkan banyak kebermanfaatan, keberkahan ilmu akan mengalir, do’a yang tulus akan terucap, ada banyak kebaikan yang didapatkan dari seorang guru yang amat dihormati oleh para muridnya. Maka, ketika dalam mempelajari suatu ilmu jangan sekali pun menorehkan luka di hati guru guru kita, yang nantinya akan mengakibatkan  ilmu yang didapat tidak terdapat keberkahan di dalamnya. Ironisnya dalam budaya kita memperbincangkan kekurangan guru adalah sebuah hal yang lumrah, bahkan menjadi topik yang tidak pernah ditinggalkan ketika berkumpul dengan teman-teman, nah perkara demikian tentunya tidak baik apabila dimiliki oleh para penuntut ilmu, apabila mendengar mengenai keburukan dan terlebih memang kita rasakan keburukannya, maka akan lebih baik diam dan tidak berkomentar, lantas mengambil ibrah dari setiap kejadian yang ada.

Para pencari ilmu sejati memiliki banyak sifat luhur di dalam dirinya, mereka akan senatiasa tawadhu’ terhadap ilmu yang dimiliki, sifat sombong bukanlah merupakan cerminan dari orang berilmu, dalam hadits disebutkan bahwa sifat sombong ialah “menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” jika sifat sombong ada dalam hati seorang penuntut ilmu, maka bisa dipastikan akan terjadi sebuah kehancuran. Bahkan disebutkan dalam kitab tersebut bahwa “siapa yang pengangungannya terhadap ilmu setelah lebih dari 1000 kali mendengar, tidak seperti pengagungannya pada pertama kali mendengarnya, maka ia bukan termasuk ahli ilmu”. Seorang ahli ilmu akan menyimak dengan penuh hikmah, pengagungan dan penghormatan meskipun telah sangat sering mendengarnya.

Sama saja seperti analogi baju-baju yang kita miliki, tentu kita pernah menggunakan sebuah baju secara berulang dalam beberapa rentang waktu yang berbeda,dimana terjadi perasaan yang berbeda-beda meskipun kita menggunakan baju yang sama. begitu pula ilmu, meskipun sudah mendengar sangat sering, namun tentunya akan ada nilai lain yang membedakannya, ada hikmah lain yang didapatkan. Sehingga sikap tawadhu akan sulit dimiliki oleh orang yang tersimpan di dalam hatinya rasa sombong. Sikap sombong akan menutup banyak kebaikan dan tentunya akan menghalangi banyak keberkahan ilmu yang diberikan oleh para guru, muallim, ustadz dsb.

Berikut merupakan beberapa hal yang biasa dilakukan oleh para ulama terdahulu sebelum mereka memulai pelajaran dalam mencari sebuah ilmu

  1. Para ulama memulai pelajaran di hari rabu
  2. Membiasakan berwudhu sebelum memulai pelajaran
  3. Membiasakan bersiwak
  4. Membawa pena yang akan digunakan untuk mencatat ilmu, penting bagi penuntut ilmu untuk mencatat apapun yang dikatakan oleh guru, ilmu ibarat hewan buruan, jika tidak ada tali kekangnya maka ia akan kabur, dan tali kekangnya ialah dengan menuliskannya
  5. Mengulang ulang pelajaran ketika rentang waktu magrib dan isya, serta setelah sahur
  6. Menghadap arah kiblat

Pada intinya, adab dan ilmu bukanlah sesuatu hal yang dapat dipisahkan, keduanya saling melengkapi satu sama lain, layaknya dua sisi mata uang. Adab merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi oleh  sesiapapun yang akan menuntut ilmu, sehingga dalam mempelajari ilmu akan beroleh banyak keberkahan dan kebermanfaatan, layaknya pohon yang tinggi menjulang namun rindang sehingga orang dapat merasakan nikmatnya berteduh dibawah pohon tersebut, ahli ilmu ialah orang orang yang senantiasiasa dirindukan nasihatnya, karena dari dirinya lah terpancar cahaya  keimanan yang merupakan wujud keberkahan dari ilmu yang ia dapatkan atas ridho gurunya.

Selamat berjuang wahai para pencari ilmu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar