Aktivitas fisik 30 menit perhari, mungkinkah bagi para aktivis ? – BAKTI NUSA

Aktivitas fisik 30 menit perhari, mungkinkah bagi para aktivis ?

Aktivitas fisik 30 menit perhari, mungkinkah bagi para aktivis ?

Pola penyakit di Indonesia kini mengalami pergeseran dari Communicable Disease (seperti infeksi) ke arah Non Communicable Disease ( seperti penyakit jantung koroner, stroke, kanker, gagal ginjal, dll). Implikasi dari pergesaran pola penyakit ini yaitu membengkaknya beban keuangan negara, karena penyakit-penyakit seperti inilah yang turut menyumbang besarnya defisit BPJS saat ini.

Guna mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Indonesia menggalakkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau yang biasa dikenal sebagai GERMAS. Gerakan ini berfokus pada upaya promotif-preventif dengan berfokus pada tiga gerakan awal yaitu melakukan aktivitas fisik 30 menit perhari, mengonsumsi buah dan sayur, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dari ketiga fokus awal tersebut, hal yang cukup menjadi “PR” besar bagi kita adalah beraktivitas fisik selama 30 menit perhari. Terlebih bagi mereka para aktivis yang sibuk dengan padatnya kegiatan di organisasi maupun di komunitas masyarakat. Lupa makan, kurang tidur, tidak sempat olahraga ibarat menjadi trias aktivis. Tidak lucu apabila aktivis di masa mudanya menjadi solusi masyarakat tetapi di masa tua malah menjadi beban masyarakat. Naudzubillahi min dzalik.

Lantas, bagaimana solusi bagi mereka yang kesulitan untuk melakukan aktivitas fisik ataupun olahraga 30 menit setiap hari ?

Hippocrates, yang dikenal sebagai bapak kedokteran dunia pernah menyampaikan sebuah quote menarik: “walking is man’s best medicine”. Lah, cuma jalan nih ? Yap, tapi jalan 10,000 langkah perhari.

Penelitian mengungkapkan bahwa jalan 10.000 langkah perhari berpengaruh terhadap angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler, sebanding dengan olahraga 30 menit. Beberapa penelitian juga mengungkapkan keuntungan dari aktivitas berjalan 10.000 langkah perhari ini, diantaranya yaitu mampu  menurunkan  tekanan darah, menurunkan Indeks Massa Tubuh (IMT), menjaga kekuatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD), meningkatkan HDL (lemak baik), dan menurunkan LDL (lemak jahat). Luar biasa bukan ?

Lantas, bagaimana caranya supaya bisa mencapai 10.000 langkah sehari ?

Mencapai target jalan 10.000 langkah perhari tidaklah sesusah yang dibayangkan. Tentu saja dimulai dari hal-hal yang kecil seperti jalan kaki kalau mau ke ind*maret warung kelontong, jalan kaki kalau mau ke masjid (inget setiap langkah kaki ke masjid menggugurkan dosa dan meninggikan derajat, kurang apa coba), jalan kaki kalau mau ke rumah gebetan calon istri, serta meminimalkan penggunaan eskalator maupun eskavator dan memaksimalkan penggunaan tangga. InsyaAllah bisa mencapai target 10.000 langkah perhari.

Terus, bagaimana caranya supaya kita bisa tau jumlah langkah kaki kita sudah 10.000 langkah ?

Perkembangan teknologi semakin memudahkan manusia dalam segala aspek kehidupannya, terlepas dari segala pro dan kontranya. Tentu saja kita sebagai manusia yang berakal akan memilih dan memilah mana yang bermanfaat bagi diri kita. Bagi yang menginginkan gratisan, bisa menggunakan aplikasi penghitung langkah yang dapat diunduh secara gratis di playstore. Ada beberapa aplikasi yang bisa dipilih untuk mengukur jumlah langkah perhari seperti Runtastic, Pedometer, Noomwalk, Accupedo, Fitbit dan masih banyak lainnya. Namun, kabar terakhir mengatakan bahwa beberapa aplikasi ini tidak tepat 100% akurat dalam mengukur jumlah langkah, karena ada yang berlebih dan ada yang kurang dari hitungan sebenarnya. Namun, menurut saya pribadi ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Solusi dari pernasalahan ini adalah melebihkan target langkah kaki kita perharinya. Untuk kawan-kawan yang ingin lebih akurat bisa menggunakan jam tangan GPS yang sudah banyak beredar di pasaran indonesia. Tapi siap-siap untuk merogoh dompet agak dalam  ya 🙂

 

Referensi :

www.depkes.go.id

www.cnnindonesia.com

Wattanapisit A, Thanamee S. Evidence Behind 10,000 Steps Walking. Mini Review. Journal of Health Research. 2017

 

Sumber gambar : www.google.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares
Skip to toolbar